Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
Hukum
17 jam yang lalu
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
2
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
Hukum
13 jam yang lalu
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
3
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
Umum
14 jam yang lalu
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
4
Ketua Umum PB KAMI Dukung Langkah Tegas Kapolri Bersihkan Institusi
Hukum
19 jam yang lalu
Ketua Umum PB KAMI Dukung Langkah Tegas Kapolri Bersihkan Institusi
5
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
Olympic
9 jam yang lalu
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
6
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Metropolitan
9 jam yang lalu
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Buntut Kudeta Moeldoko, 85% Netizen di Twitter Setuju Rakyat Bergerak Selamatkan Demokrasi

Buntut Kudeta Moeldoko, 85% Netizen di Twitter Setuju Rakyat Bergerak Selamatkan Demokrasi
Ilustrasi perseteruan Moeldoko dan AHY. (Foto: Istimewa)
Selasa, 09 Maret 2021 21:08 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Netizen gerah melihat kesewenang-wenangan upaya merampas kepemimpinan Partai Demokrat yang dilakukan oleh pejabat negara dan pembiaran yang dilakukan pihak-pihak yang berwenang.

Kekesalan ini diekspresikan dalam polling Twitter yang dilakukan akun @info_jakarta, Senin (8/3/2021).

Deputi Strategi dan Kebijakan Balitbang DPP Partai Demokrat Yan Harahap mengungkapkan polling tersebut diikuti oleh hampir 60 ribu netizen. "Hasilnya, 85% netizen setuju rakyat bergerak selamatkan demokrasi," kata Yan.

Yan melihat masyarakat sudah mulai jengah dengan pembiaran atas kesewenang-wenangan ini, meskipun Presiden Jokowi diberitakan (5/2) menegur Kepala KSP Moeldoko atas ulahnya mencampuri urusan internal Partai Demokrat.

"Entah teguran Presiden dianggap angin lalu, atau ada tendensi pembiaran, gerakan pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat berjalan terus," gugat Yan.

"Ini memuncak pada tanggal 4 Maret, saat sekelompok mantan kader yang dipecat nekat menyelenggarakan Kongres Luar Biasa yang ilegal di Deli Serdang, Sumatera Utara. Mudah ditebak, Moeldoko dijadikan Ketua Umum meski tidak hadir saat penunjukkan."

KLB ini diwarnai pertumpahan darah gara-gara ratusan orang tak dikenal tiba-tiba menyerbu serta memukuli para kader Partai Demokrat yang memprotes penyelenggaraan KLB ilegal. Moeldoko baru datang pada malam harinya, mengenakan jaket Demokrat meski tidak punya KTA Demokrat.

Yan juga mengungkapkan dalam jajak pendapat lain yang juga diselenggarakan akun @info_jakarta (8/3), 87% dari hampir 60 ribu netizen yang memberi suara, berpendapat tidak setuju persoalan pencaplokan kepemimpinan ini merupakan masalah internal PD.

Ketika ditanya apakah mereka yakin Pemerintah akan bersikap adil, 86% netizen tidak percaya bahwa Pemerintah bisa adil dalam hal ini, apalagi mengingat Partai Demokrat tidak berada dalam koalisi pemerintahan.

Yan mengingatkan agar pemerintah tidak menganggap enteng aspirasi kegelisahan publik ini. "Jangan-jangan situasinya seperti api dalam sekam. Di permukaan seolah-olah tidak terjadi apa-apa, tapi dibawah permukaan ada gejolak yang membara," tandasnya.

Yan juga mengingatkan baru pada bulan September lalu ribuan masyarakat, termasuk anak-anak muda, turun ke jalan di Jakarta, Jogja, Makassar dan kota-kota lain memprotes RUU Ciptaker, yang lalu ditandai oleh Fraksi Partai Demokrat yang walkout sebagai protes. Ini tercatat sebagai unjuk rasa terbesar sejak era reformasi. Tahun 2019, revisi RUU KPK juga mengundang ribuan orang turun ke jalan di berbagai kota.

Yan berharap pemerintah bisa bersikap adil dan rasional dalam memutuskan kasus KLB ilegal yang merupakan perampasan parpol yang sah. "Pemerintah harus menolak hasil KLB ilegal ini untuk menjaga kepastian hukum dan kestabilan politik keamanan," imbau Yan.

"Lebih baik kita mengkonsentrasikan energi dan waktu bangsa untuk mengatasi krisis berganda kesehatan dan ekonomi yang sedang kita alami. Jangan sampai rakyat terdorong untuk turun ke jalan lagi ketika saluran-saluran aspirasi mereka macet," pungkasnya.***

wwwwww