Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
22 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
17 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
21 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
4
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
17 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
5
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
21 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
6
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
16 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Home  /  Berita  /  MPR RI

Kata Wakil Ketua MPR mengenai Amandemen UUD 1945

Kata Wakil Ketua MPR mengenai Amandemen UUD 1945
Wakil Ketua MPR RI, Jazilul Fawaid (kanan) dalam diskusi yang diselenggarakan Biro Humas MPR RI, di Media Center 'Senayan', Jakarta, Jumat (19/3/2021). (foto: ist./kwp)
Jum'at, 19 Maret 2021 18:31 WIB
JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI (Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia), Jazilul Fawaid mengungkapkan, setiap era atau orde pemerintahan di Indonesia selalu ditandai dengan perubahan konstitusi. Dewasa ini, sebagian rakyat tertangkap pesannya ingin mengembalikan konstitusi ke konstitusi yang lama.

"Setelah amandemen keempat, tidak ada lagi amandemen. Cuman rekomendasi yang (ada, red), salah satunya yang urgen itu adalah PPHN atau menghidupkan kembali GBHN. Berarti pengen (konstitusi/UUD 1945, red) yang lalu dong, kan gitu! Sebagian bilang berarti kepingin yang lalu dong, kan begitu sebagian bilang, berarti yang lalu sudah benar kenapa diganti?" kata Jazilul dalam sebuah diskusi di Media Center 'Senayan', Jakarta, Jumat (19/3/2021).

Politisi yang akrab disapa Gus Jazil ini menjelaskan, jika sudah ada rekomendasi mengenai GBHN (Garis Besar Haluan Negara) atau PPHN (Pokok-Pokok Haluan Negara) dan jika merujuk pada konstitusi lampau, maka presiden bertanggung jawab pada MPR RI.

"Kalau dalam struktur yang lama berarti presiden harus bertanggungjawab kepada MPR, makanya penting GBHN ketika itu," ujar Gus Jazil.

Untuk diketahui, dalam UUD 1945 amandemen ke-3, presiden dan wakil presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat. Ini adalah amanat Pasal 6A ayat (1). Adapun MPR, sebagaimana pasal 3 ayat (2) dan (3) UUD 1945 amandemen ke-3 dan ke-4, diberi kewenangan untuk melantik dan memberhentikan Presiden dan Wakil Presiden RI.

Adapun dalam UUD 1945 versi lawas, tepatnya pada Pasal 6 ayat (2) diatur; "Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan suara yang terbanyak.".

Adapun pengaturan mengenai GBHN dalam konstitusi lawas tersebut, diatur dalam Pasal 3 dengan bunyi; "Majelis Permusyawaratan Rakyat menetapkan Undang-Undang Dasar dan garis-garis besar daripada haluan negara.". Aturan mengenai haluan negara ini, tak lagi tersedia di UUD 1945 yang berlaku saat ini.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, MPR RI, Metropolitan
wwwwww