Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Minta Bantu Karena Tak Terima Diputus Pacar, Gadis Ini Malah Dicabuli Dukun
Hukum
22 jam yang lalu
Minta Bantu Karena Tak Terima Diputus Pacar, Gadis Ini Malah Dicabuli Dukun
2
Meraup Berkah di Tanjakan Maut Sitinjau Laut Melalui Akun Youtube
Umum
23 jam yang lalu
Meraup Berkah di Tanjakan Maut Sitinjau Laut Melalui Akun Youtube
3
Penagih Utang Tewas Dikeroyok di Cipondoh, 5 Warga Diamankan Polisi
Peristiwa
21 jam yang lalu
Penagih Utang Tewas Dikeroyok di Cipondoh, 5 Warga Diamankan Polisi
4
Menghilang 1,5 Bulan, Pria di Aceh Ditemukan Tinggal Kerangka Dekat Gubuk
Peristiwa
23 jam yang lalu
Menghilang 1,5 Bulan, Pria di Aceh Ditemukan Tinggal Kerangka Dekat Gubuk
5
Bawa 20 Paket Besar Ganja, Warga Kuranji Padang Dicokok Petugas
Hukum
23 jam yang lalu
Bawa 20 Paket Besar Ganja, Warga Kuranji Padang Dicokok Petugas
6
Pj Kepala Daerah 22/23 Kewenangan Siapa? Azis Syamsuddin Dorong Pembahasan
Politik
22 jam yang lalu
Pj Kepala Daerah 22/23 Kewenangan Siapa? Azis Syamsuddin Dorong Pembahasan
Home  /  Berita  /  Politik

Bicara Demokrasi Culas, Zulkifli Hasan Singgung Capres-Cawapres Kalah Jadi Menteri

Bicara Demokrasi Culas, Zulkifli Hasan Singgung Capres-Cawapres Kalah Jadi Menteri
Ketua Umum DPP PAN, Zulkifli Hasam. (Foto: Istimewa)
Kamis, 25 Maret 2021 13:33 WIB
JAKARTA - Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (Zulhas) menyampaikan pidato kebangsaan. Dia bicara soal demokrasi culas hingga menyinggung capres dan cawapres yang kalah dalam Pilpres 2019 kini menjadi menteri di kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pidato itu ditayangkan di YouTube Zulkifli Hasan, Rabu (24/3/2021). Dia awalnya bicara tentang kebijakan ekonomi yang cenderung liberal dan pro terhadap asing.

"Di sisi lain, lobi-lobi kelompok kanan untuk melakukan liberalisasi ekonomi dan politik juga sangat terasa. Pemberlakuan omnibus law, undang-undang penanaman modal asing, dan skema ekonomi nasional yang terlalu pro pada investasi asing serta utang luar negeri juga terus mengancam kita. Dengan mendorong perubahan kultur sosial politik kita yang juga menjadi cenderung liberal," kata Zulhas.

Dia kemudian bicara soal demokrasi yang dianggapnya jauh dari musyawarah mufakat. Zulhas menyebut Pilkada hingga Pilpres menunjukkan demokrasi culas alias curang dan hanya berpikir menang.

"Termasuk cara kita dalam menyelenggarakan demokrasi yang kian meninggalkan semangat musyawarah mufakat sebagaimana diamanatkan sila ke-4 dalam Pancasila. Pilkada 2017, 2018, Pileg dan Pilpres 2019 serta Pilkada serentak 2020 yang telah lalu telah menunjukkan kepada kita karakter demokrasi yang culas dan hanya berpikir menang-menangan," ujarnya.

"Politik elektoral berubah sedemikian rupa menjadi semata ajang untuk memperebutkan kekuasaan belaka, berebut lobi, dan pengaruh dengan agenda berbeda-beda. Tak peduli masyarakat terpolarisasi secara hebat, bahkan muncul benih-benih permusuhan dan kebencian yang ongkos sosial budayanya sangat tinggi," lanjut Zulhas.

Wakil Ketua MPR ini menilai apa yang terjadi di Indonesia saat ini menyedihkan. Dia menyebut ada polarisasi politik yang berujung menimbulkan kebencian di masyarakat.

"Begitu menyedihkan melihat apa yang terjadi di Indonesia saat ini, polarisasi politik yang menimbulkan permusuhan dan bahkan kebencian, 'cebong vs kampret', 'buzzer vs kadrun', bisa terus tereskalasi menjadi pikiran 'us vs them'. Kami melawan mereka, yang sangat membahayakan keutuhan kita berbangsa dan bernegara," ujarnya.

Zulhas menyayangkan perpecahan itu sudah telanjur terjadi. Padahal persaingan capres-cawapres sudah berakhir, bahkan pihak yang kalah bergabung ke yang menang.

"Persaudaraan kebangsaan yang terganggu, setelah pemenang Pilpres diperoleh, pada akhirnya yang kalah bergabung juga dengan penguasa. Capres dan cawapres penantang, keduanya kini menjadi menteri juga, bergabung dengan Presiden yang terpilih. Tidak ada berkuasa dan tidak berkuasa, semua menjadi satu. Sementara konsekuensi terbelahnya masyarakat menjadi kubu-kubu telanjur terjadi," ucapnya.

Sebagai informasi, ada dua paslon dalam Pilpres 2019, yakni Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Jokowi-Ma'ruf kemudian menang dan dilantik sebagai Presiden-Wakil Presiden. PAN sendiri mengusung Prabowo-Sandiaga.

Sementara itu, Prabowo bergabung dengan pemerintah dan menjadi Menteri Pertahanan. Belakangan, Sandiaga Uno turut bergabung menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Kembali ke Zulhas. Dia mengatakan dampak kubu-kubuan di masyarakat tidak bisa dibiarkan. Dia menilai harus ada rekonsiliasi nasional dan para elite menurutnya harus meminta maaf.

"Pertama, rekonsiliasi nasional untuk mengembalikan keutuhan kita dalam berbangsa dan bernegara. Para elite harus meminta maaf kepada masyarakat dan berjanji tidak lagi menggunakan politik identitas, politik agama, politik SARA, untuk menyelenggarakan sukses kekuasaan. Ongkos politiknya besar sekali yang harus kita tanggung. Mulai hari ini masyarakat harus diajak bersatu kembali, menggunakan lagi spirit sila ketiga Pancasila, persatuan Indonesia," tuturnya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Peristiwa, Pemerintahan, Politik, DKI Jakarta
wwwwww