Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
18 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
13 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
17 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
17 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
14 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
6
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
13 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Home  /  Berita  /  Olympic

Atasi Masalah Sampah Plastik, Pemerintah Diminta Gencar Edukasi Masyarakat

Atasi Masalah Sampah Plastik, Pemerintah Diminta Gencar Edukasi Masyarakat
Ilsutrasi sampah di bibir pantai. (Foto: Istimewa)
Selasa, 22 Juni 2021 20:00 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Semakin bertambahnya jumlah sampah plastik di Tanah Air, membuat Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, prihatin. LaNyalla berharap pemerintah memberikan edukasi ke masyarakat mengenai sampah plastik agar bisa didaur ulang.

Senator asal Jawa Timur itu mengatakan, Indonesia masuk sebagai negara terbesar kedua penyumbang sampah plastik sedunia. Kesadaran masyarakat yang minim dan bebasnya aturan mengenai sampah membuat kualitas manajemen sampah di Indonesia sangat buruk.

"Sampah plastik itu bisa didaur ulang, hanya saja masyarakat kita belum terbiasa. Makanya aturan pembatasan penggunaan kantong plastik saja sebenarnya tidak cukup. Harus ada kebijakan yang lebih besar," tutur LaNyalla, Selasa (22/6/2021).

Menurutnya, perlu ada aturan untuk membiasakan masyarakat lebih peduli terhadap dampak sampah plastik. LaNyalla mengingatkan, perlu ratusan tahun untuk mengurai sampah plastik yang dampaknya akan dirasakan oleh generasi mendatang.

"Makanya harus dimulai dari tingkat masyarakat terkecil yaitu rumah tangga. Kita tidak bisa mengandalkan kesadaran masyarakat karena kita sudah terbiasa abai. Pemerintah perlu membuat aturan agar masyarakat memilah sampah sejak dari rumah," tuturnya.

Berkaca dari luar negeri, kata LaNyalla, warga diminta memilih sampah makanan, sampah yang bisa didaur ulang, sampah diaper, hingga sampai sampah perabot. Dengan demikian, sampah yang bisa didaur ulang akan lebih mudah teridentifikasi.

"Pemerintah juga perlu menyiapkan bank-bank sampah daur ulang. Memang pekerjaan rumah yang besar, tapi saya yakin dengan manajemen yang baik, kita bisa lebih baik lagi mengelola sampah yang bisa merugikan lingkungan," tandasnya.

Mantan Ketua Umum PSSI ini mengingatkan, jutaan ton sampah plastik masuk ke laut setiap tahunnya dan sangat membahayakan terhadap keberlangsungan hidup biota laut.

"Saya juga mengajak perusahaan yang memproduksi barang-barangnya dengan kemasan plastik agar bisa memikirkan persoalan ini. Sekali lagi, ini perlu didukung oleh regulasi pemerintah. Karena masalah sampah plastik ini menurut saya persoalan besar," jelasnya.

Ditambahkan LaNyalla, harus ada kerja sama antara pemerintah dengan perusahaan-perusahaan tersebut. Menurutnya, perusahaan di banyak negara sudah mengambil inisiatif dalam memberikan cara inovatif dan kreatif untuk mendorong daur ulang di kalangan konsumen.

"Seperti di Jerman, terdapat mesin daur ulang botol di mana masyarakat bisa mengembalikan botol-botol kemasan produk yang telah habis dipakai dengan imbalan uang. Cara-cara seperti ini bisa kita contoh," katanya.

Selain itu, LaNyalla juga mengajak masyarakat luas untuk mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan, seperti saat belanja. Masyarakat diminta tidak lagi menggunakan plastik tapi menggunakan kantong khusus atau goodie bag yang bisa dipakai berulang kali dan ramah lingkungan.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, timbunan sampah tahun 2020 mencapai 67,8 juta ton, di mana 15% di antaranya terdiri dari sampah plastik. Dari jumlah ini, 88,17% sampah plastik masih diangkut ke TPA atau bahkan berserakan di lingkungan.***.

wwwwww