Sejarah yang Diukir Atlet Indonesia Itu Lebih Membanggakan
![]() |
| Windy Cantika Aisah. |
Jika berbicara masalah peringkat memang tidak terlepas dengan kepingan emas, perak dan perunggu yang diraih pasukan Merah Putih dalam pertempuran di tengah pandemi Covid-19.
Pada Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, Indonesia mengoleksi 1 emas, 2 perak. Namun, di Olimpiade 2020 Tokyo hanya meraih 1 emas, 1 perak dan 3 perunggu. Dengan hasil itu, praktis kita kehilangan 1 perak yang menyebabkan posisi Indonesia berada di bawah Filipina yang menempati peringkat 50 dengan mengoleksi 1 emas, 2 perak dan 1 perunggu.
Nah berbicara perolehan penurunan medali bukan hanya terjadi pada Kontingen Indonesia saja. Kontingen Amerika Serikat saja yang menempati peringkat pertama di Olimpiade 2016 Rio de Janeiro dan mempertahankan posisinya di Olimpiade 2020 Tokyo mengalami penurunan perolehan medali emas. Tadinya, negeri Paman Sam ini meraup 46 emas, 37 perak, 38 perunggu. Kini, mereka hanya mengoleksi 39 emas, 41 perak, 33 perunggu.
Yang tidak terpengaruh dalam perolehan medali emas adalah China. Malahan, Tiongkok mampu meningkatkan perolehan medali dari 26 emas, 18 perak, 26 perunggu menjadi 38 emas, 32 perak, 18 perunggu sekaligus menempatkannya pada posisi runner up menggeser Inggris.
Memang posisi Amerika Serikat dan China tidak mempengaruhi peringkat Indonesia. Namun, kita masih harus melihat adanya kemunculan negara-negara baru yang tadinya tidak berada dalam peringkat 1 hingga 46 pada Olimpiade 2016 Rio de Janeiro. Kemunculan negara baru itu jelas mempengaruhi posisi Indonesia.

Eko Yuli Irawan.
Sebut saja Hongkong (1-2-3), Czech Republik (4-4-3), China Taipei (2-4-6), Israel (2-0-2), Qatar (2-0-1), Bahamas (2-0-0), Kosovo (2-0-0), Belarus (1-3-3), India (1-2-4), dan Mesir (1-1-4). Padahal, di Olimpide 2016 Rio de Janeiro lalu, ke-10 negara yang tidak meraih medali emas ini berada di bawah Indonesia.
Yang lebih menyedihkan lagi, Thailand sebagai pelanggan tetap gelar juara umum SEA Games terlempar jauh di bawah Indonesia. Pada Olimpide 2016 Rio de Janeiro, Negeri Gajah Putih menempati peringkat ke-32 dengan koleksi 2 emas, 2 perak, 2 perunggu. Kini, mereka menempati peringkat 59 dengan koleksi 1 emas dan 1 perak bersama Latvia dan Fiji dan Estonia.
Lantas apa yang bisa dibanggakan Kontingen Merah Putih? Pertama, Pasangan Greysia Polii/Apriyani Rahayu bukan hanya meraih emas tetapi sekaligus mencatat sejarah sebagai ganda putri pertama Indonesia yang berjaya sejak bulutangkis dipertandingkan di Olimpiade. Praktis, mereka mampu mempertahankan medali emas yang terakhir diraih pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang akrab dipanggil Owi/Butet pada Olimpiade 2016 Rio de Janeiro.

Rahmat Erwin Abdullah.
Kemudian, lifter angkat besi senior Eko Yuli Irawan dengan medali peraknya mampu mencetak sejarah. Eko Yuli menjadi satu-satunya atlet Indonesia yang menyumbangkan medali bagi Kontingen Indonesia pada empat penampilan di Olimpiade berturut-turut. Sebelumnya, Eko meraih medali perak di Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, perunggu Olimpiade 2012 London dan perunggu Olimpiade 2018 Beijing.
Sejarah lain juga diukir dua lifter junior angkat besi membuat kejutan sebagai pengganti medali perak yang pernah diraih Sri Wahyuni pada Olimpiade 2016 Rio de Janeiro. Pada penampilan perdananya, Windy Cantika Aisah yang masih berusia 19 tahun mampu meraih perunggu. Begitu juga Rahmat Erwin Abdullah yang masih berusia 21 tahun secara tidak terduga meraih medali perunggu. Padahal, dalam pertandingan Rahmat berada di Grup B dimana 9 lifter saingannya yang total angkatannya melebihi total angkatannya berada di Grup A.

Greysia/Apriyani.
Kesuksesan Eko, Rahmat dan Windy ini juga menjadikan cabang olahraga angkat besi secara rutin menyumbangkan medali pada enam pelaksanaan Olimpiade. Dari mulai Olimpiade 2000 Sydney hingga Olimpiade 2020 Tokyo.
Boleh dibilang kesuksesan cabang bulutangkis dan angkat besi ini baru hanya mendapat sentuhan dari Desan Besar Olahraga Nasional yang dilahirkan pada era Menpora Zainudin Amali. Bagaimana pun pandemi Covid-19 ikut mempengaruhi untuk mencapai hasil maksimal karena tidak terpenuhinya program Trainning Camp (TC) di luar negeri dan minimnya uji coba.
Penulis : Azhari Nasution, Wartawan Gonews.co Group. ***
| Kategori | : | DKI Jakarta, Non Olympic |













