Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
15 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
16 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
17 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
17 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
17 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
9 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Home  /  Berita  /  Nasional

DPR Minta Ekosistem Pertanian Menarik Minat Milenial

DPR Minta Ekosistem Pertanian Menarik Minat Milenial
Ilustrasi milenial dan pertanian. (gambar: ist.)
Rabu, 01 September 2021 01:52 WIB
JAKARTA - Wakil Ketua DPR RI, Rachmat Gobel, mengingatkan pemangku kebijakan untuk membangun ekosistem pertanian yang bisa menarik minat milenial tertarik untuk terjun ke pertanian.

"Harus ada solusi terintegrasi. Tak bisa sepotong-sepotong. Jadi harus membangun ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir, dari soal modal dan inovasi teknologi hingga soal diversifikasi produk hilir pertanian," kata Gobel dikutip GoNEWS.co, Rabu (1/9/2021).

Gobel mengatakan, pertanian merupakan fondasi ekonomi nasional. Sehingga pertanian merupakan masalah strategis yang harus dijaga. Selain menyerap banyak tenaga kerja, katanya, pertanian dan para petani merupakan penjaga harkat dan martabat bangsa.

"Bahkan di tengah pandemi ini, petani tetap memberi makan kita sebagai bangsa sehingga tidak mengemis ke bangsa lain," katanya.

Akibat perubahan iklim dan terus bertambahnya penduduk dunia, kata Gobel, masa depan dunia bisa terancam oleh krisis pangan. "Jadi, Indonesia yang memiliki lahan yang luas dan subur harus menjadi lumbung pangan dunia," ujarnya.

Ia mengusulkan, agar dilakukan penguatan kelembagaan petani seperti koperasi. Pasalnya, petani Indonesia umumnya masih butuh bantuan permodalan untuk bisa bertani secara modern.

"Produktivitas komoditas juga masih rendah. Ini yang membuat pertanian tidak atraktif secara ekonomi," katanya.

Gobel juga menyarankan agar selalu ada inovasi untuk meningkatkan kualitas bibit, pupuk, dan peralatan pertanian. Gobel bercerita tentang pengalamannya uji coba demplot pertanian padi dengan pupuk non subsidi. "Memang harga pupuknya lebih mahal, tapi hasilnya meningkat dua kali lipat dan keuntungan petani juga naik berlipat. Apalagi jika gabah hasil panen langsung masuk mesin pengering maka kualitas beras menjadi premium dan potensi kehilangan menjadi zero," katanya.

Hal yang tak kalah penting, kata Gobel, adalah diversivikasi produk hilir pertanian. "Jangan hanya menyentuh sisi hulu, tapi juga harus inovasi di hilir. Agar ada nilai tambah," katanya.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, Kriminal, Nasional
wwwwww