Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
9 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
9 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
10 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
11 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
10 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Metropolitan
17 jam yang lalu
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Home  /  Berita  /  Non Olympic

Pelaksanaan SEA Games Hanoi Masih Tanda Tanya

Pelaksanaan SEA Games Hanoi Masih Tanda Tanya
Ferry J Kono saat menghadiri SEAGF Meeting virtual, Jumat (17/9/2021). (Dok. NOC Indonesia)
Jum'at, 17 September 2021 22:04 WIB
JAKARTA - Penyelenggaraan SEA Games 2021 Hanoi yang rencananya diadakan 2022 masih tanda tanya. Sebagai tuan rumah, Vietnam masih belum bisa memberi kepastian pada South East Asian Games Federation (SEAGF) Meeting yang digelar virtual pada Jumat (17/9/2021).

Sekretaris Jenderal Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) Ferry J Kono menjelaskan pembahasan pelaksanaan SEA Games Hanoi masih alot. Alasannya masih sama, yakni Panitia Penyelenggara perlu melakukan koordinasi lanjutan dengan pemerintah Vietnam.

“Pelaksanaan SEA Games Hanoi belum ada keputusan. NOC Vietnam meminta kesabaran anggota SEAGF karena mereka masih berdialog dengan pemerintah. Rapat selanjutnya Oktober, kami berharap sudah ada putusan yang tetap,” kata Ferry usai rapat berdurasi 2 jam.

Pada Juli lalu, SEAGF menetapkan penyelenggaraan SEA Games Hanoi ditunda dikarenakan tingginya kasus Covid-19 di Vietnam dan mayoritas negara ASEAN. Tuan rumah meminta penundaan sampai tahun depan dengan jadwal pembahasan yang dilakukan setelah Olimpiade 2020 Tokyo.

Ferry menjelaskan berdasarkan laporan di rapat tadi, mayoritas negara ASEAN sudah mengalami penurunan kasus Covid-19. Hanya Filipina yang angkanya terbilang tinggi, tetapi NOC di Asia Tenggara berkomitmen dengan multi event yang sudah diagendakan.

Setidaknya ada empat multi event Internasional yang diikuti Indonesia pada kalender 2022, yaitu Asian Indoor & Martial Arts Games (AIMAG) di Bangkok-Chonburi, Thailand pada Maret, Islamic Solidarity Games (ISG) Turki (Agustus), Asian Games Hangzhou (September), serta Asian Youth Games Shantou (Desember)

“Belum adanya keputusan SEA Games Hanoi ini juga berdampak pada Kamboja yang menjadi tuan rumah 2023. NOC Kamboja mengatakan jika sampai akhir tahun tidak ada putusan, mereka juga kesulitan untuk menjadwalkan CdM Seminar hingga penyusunan technical handbook. Padahal Kamboja sudah serius membangun venue dan menyiapkan atlet,” ujar Ferry.

Lantas bagaimana sikap Indonesia? Ferry menjelaskan Indonesia juga mengalami kesulitan. Terutama terkait anggaran. Sebab, usulan anggaran harus diajukan Kementerian Pemuda dan Olahraga pada November, yang perlu menyertakan data pendukung seperti waktu pelaksanaan dan cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan.

“Hingga saat ini, kami masih fokus pada multi event yang masuk dalam kalender 2022. Apabila SEA Games diselenggarakan dan bertepatan dengan event tersebut, tentu akan sulit bagi kami berpartisipasi. Tapi, ini belum bisa dipastikan hingga Rapat SEAGF selanjutnya. Saya pikir, Tim Indonesia harus fokus ke Asian Games. Jika SEA Games tetap ada, mungkin benar-benar sekadar menjadi sasaran antara saja karena negara ASEAN lainnya juga ada yang harus mengikuti Commonwealth Games,” tambah Ferry.

Rapat tadi juga membahas beberapa agenda, seperti penjelasan NOC Thailand terkait kesiapan menjadi penyelenggara AIMAG edisi VI. Rencananya, panitia penyelenggara bakal menerapkan protokol kesehatan seperti Olimpiade Tokyo.

Selain itu, SEAGF membahas rencana untuk membantu pemerintah negara ASEAN terkait rencana deklarasi pernyataan yang menginginkan agar cabor SEA Games merujuk kepada cabor Olimpiade dan Asian Games. Selama ini, cabor yang dipertandingkan dalam SEA Games merujuk pada Piagam SEAGF yakni tuan rumah mempertandingkan minimum 22 cabor dari tiga kategori.

“Ini mungkin yang tidak banyak diketahui, yakni kategori satu adalah cabor wajib yakni atletik dan akuatik. Tambahannya minimum diambil 14 cabor kategori dua yang merujuk pada cabor mandatory Olimpiade dan Asian Games, dan maksimum delapan cabor kategori tiga yang nomor pertandingannya juga dibatasi karena bertujuan untuk menjaga olahraga tradisional negara-negara ASEAN,” tambah Ferry. ***

wwwwww