Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
Hukum
11 jam yang lalu
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
2
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
10 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
3
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
Metropolitan
17 jam yang lalu
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
4
Jet Pribadi Jatuh di Palm Beach, Kecelakaan Maut Tewaskan Sembilan Penumpang
Internasional
10 jam yang lalu
Jet Pribadi Jatuh di Palm Beach, Kecelakaan Maut Tewaskan Sembilan Penumpang
5
Kapolri Jenderal Suyudi Ancam Pidana Anggota Polri dan BNN yang Isap Vape Narkotika
Umum
9 jam yang lalu
Kapolri Jenderal Suyudi Ancam Pidana Anggota Polri dan BNN yang Isap Vape Narkotika
6
Aturan Baru Mabes Polri Berlaku, Personel Resmi Dilarang Isap Vape
Nasional
14 jam yang lalu
Aturan Baru Mabes Polri Berlaku, Personel Resmi Dilarang Isap Vape
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Teras Narang Minta Semua Warga Negara Memahami Pentingnya Pancasila

Teras Narang Minta Semua Warga Negara Memahami Pentingnya Pancasila
Anggota MPR RI dari DPD RI, Agustin Teras Narang dalam sebuah diskusi di Media Center Parlemen. (Foto: Istimewa)
Senin, 20 September 2021 18:05 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA – Anggota MPR RI dari DPD RI, Agustin Teras Narang berpendapat, membumikan Pancasila adalah suatu pekerjaan yang tidak boleh pernah berhenti. Namun tentunya, pekerjaan ini harus juga didasari kepada era dan harus mampu menyesuaikan era itu sendiri. Demikian diungkapkan saat menjadi narasumber dalam Diskusi Empat Pilar MPR bertema 'Memperkokoh Pancasila di Tengah Kehidupan Bermasyarakat', yang dilaksanakan di Media Center Gedung Nusantara III Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (20/92021).

"Semua warga negara harus memahami pentingnya Pancasila. Ini pekerjaan yang tak boleh berhenti," tegas Teras Narang.

Untuk memberi sosialisasi atau memahamkan nilai-nilai ini, menurut mantan Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) itu, harus menyesuaikan dengan era yang ada. Unsur kebersamaan dikatakan harus selalu didengungkan. "Misalnya tadi Gus jazil menyampaikan bahwasanya kita di era milenial, kemudian kita adalah di era pandemi Covid-19, yang tentu akibat adanya disrupsi, adanya shifting, yang kita tidak pernah menduga bahwa di hadapan kita telah terjadi suatu kejadian pandemi yang luar biasa, yang bukan hanya melanda negara kita tetapi juga melanda negara-negara lain," ujarnya.

Tentu degan suatu kondisi ini, lanjut Teras, tidak lagi bisa hanya semata-mata mendasarkaan pada yang pernah dipikirkan di masa lalu, tetapi harus mampu untuk juga melakukan semacam penyesuaian. Karenanya dia berharap, penyesuaian ini dilakukan oleh MPR yang sekarang kebetulan dipercayakan oleh rakyat untuk duduk di Parlemen, bagaimana memahami, menyadari kondisi perbedaan tersebut.

"Kondisi-kondisi real di dalam rangka bermasyarakat, berbangsa dan negara ini, tentu sosialisasi Pancasila, Undang-Undang Dasar 45, NKRI, Bhineka Tunggal Ika pun harus kita sesuaikan dengan apa yang kita alami sekarang. Dan saya selalu berpandangan bahwa kita tidak bisa lagi berpikir 'business as usual' tetapi kita harus melakukan tindakan busness not as usual. Malahan terkadang harus melakukan quantum life, suatu lompatan lompatan tinggi di dalam rangka kita mengejar ketertinggalan kita," tandasnya.

Kesempatan sama, Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo menyebut, seseorang itu mengamalkan nilai-nilai Pancasila bisa dilihat apakah dia dalam kehidupan mempunyai rasa ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, dan persatuan. "Bila nilai-nilai itu ada, maka seseorang itu mampu membuat tatanan hidup sesuai dengan apa yang kita inginkan," ujarnya.

Nilai-nilai yang demikian menurut Romo Benny demikian dirinya akrab disapa, ada pada sosok Wakil Presiden Mohammad Hatta. Dimana Hatta disebut merupakan sosok yang bisa dijadikan tauladan. "Elit politik memang harus memberikan contoh ketauladanan," tegasnya.***

wwwwww