Pengamat: Sejak Dipegang Said Aqil, Kepemimpinan NU Lekat dengan Politik Praktis
![]() |
| Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. (Foto: Istimewa) |
JAKARTA - Pengamat Komunikasi Politik Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam mengatakan di bawah kepemimpinan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, PBNU mampu menunjukkan karakter berani dan tegas. Ketegasan itu khususnya nampak terhadap kelompok-kelompok Islam radikal yang mencoba menggeser karakter keislaman moderat menjadi konservatif.
Namun, di sisi lain, ia menilai kepemimpinan Kiai Said berimbas pada melekatnya PBNU kepada kerja-kerja politik praktis. "Terlebih lagi, ketika kekuasaan saat ini (the ruling power) dihadapkan pada tantangan eksploitasi politik identitas," kata Umam dalam keterangan pers, Kamis (7/10).
Dalam situasi ini, PBNU menjadi kekuatan yang sangat menarik untuk didekati oleh beragam kepentingan politik sebagai “bemper” untuk melindungi kepentingan politik mereka dari serangan kelompok Islam konservatif. Di sisi lain, kondisi ini juga digunakan sebagai kesempatan memperkuat pengaruh PBNU di level politik praktis.
Akibatnya, kata dia, peran PBNU sebagai masyarakat sipil berbasis Islam menjadi kurang optimal. Misal, soal wacana kebijakan publik amandemen Undang-Undang (UU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga penyelamatan 57 pegawai senior KPK. "Sikap dan keberpihakan PBNU kurang jelas. Kondisi ini bisa dimanfaatkan oleh berbagai kelompok kepentingan predatorik yang terus mencoba melemahkan agenda anti-korupsi," ujar dia.
Karena dinamika politik tersebut, pandangan warga Nahdliyyin relatif terbelah. Umam menyebut ada yang menilai langkah itu positif untuk meningkatkan daya tawar PBNU, tetapi ada juga yang menilai hal itu sebagai langkah mundur PBNU yang semakin tidak sesuai dengan prinsip Khittah NU 1926.
Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Affairs (Indostrategic) ini mengungkapkan survei aspirasi regenerasi kepemimpinan PBNU yang dilakukan pada 23 Maret-5 April dengan 1.200 responden. Dari 30,2 persen total responden yang berasal dari segmen masyarakat yang memiliki kedekatan dengan NU, calon ketua umum PBNU yang didukung warga Nahdliyyin di posisi pertama adalah KH Marzuki Mustamar (Ketua PWNU Jawa Timur) dengan dukungan 24,7 persen.
Posisi itu disusul oleh KH Hasan Mutawakkil Alallah dengan 22,2 persen. Kemudian KH Said Aqil Siroj dengan 14,8 persen, lalu KH Bahaudin Nursalim atau Gus Baha dengan 12,4 persen, dan KH Yahya Cholil Staquf 3,7 persen.
Sementara itu untuk tiga posisi selanjutnya yang memiliki jumlah presentase sama 1,2 persen adalah KH Marsudi Syuhud, KH Ahmad Fahrur Rozi Burhan, dan KH Ali Maschan Moesa. Sementara responden yang tidak tahu dan tidak jawab sebanyak 18,5 persen.
"Dari temuan itu, angka-angka dukungan warga Nahdliyyin terhadap nama-nama tokoh dalam survei ini dipengaruhi oleh terbukanya dukungan warga Nahdliyyin dari basis wilayah Jawa Timur sehingga membuat dua nama kiai senior asal Jawa Timur di dua posisi atas," ucap dia.
Meskipun tidak menempatkan urutas atas, KH Said Aqil Siroj dinilai masih populer dan usulan namanya muncul merata dari berbagai wilayah. Umam menyoroti beberapa nama baru yang dipengaruhi oleh kuatnya aspirasi regenerasi kepemimpinan. Misal, Gus Baha terhadap komitmennya dalam penguatan tradisi intelektuan pesantren.
"Terlepas dari pandangan, saran dan masukan dari para kiai sepuh dan kiai khas NU, utamanya yang tergabung dalam majelis Ahlul Halli Wal Aqdli, dinamika dukungan kekuatan politik terhadap nama-nama tersebut juga akan menentukan nama-nama calon ketua umum PBNU potensial karena dipilih oleh PWNU dan PCNU di Muktamar mendatang," katanya.***
| Editor | : | Muslikhin Effendy |
| Kategori | : | Olympic, Metropolitan, DKI Jakarta |













