Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
21 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
20 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
3
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
23 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
4
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Sepakbola
18 jam yang lalu
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
5
Nyawa Atlet Di Ujung Bantingan (Edisi I)
Non Olympic
21 jam yang lalu
Nyawa Atlet Di Ujung Bantingan (Edisi I)
6
Denlson Junior Siap Hadapi Laga Panas Lawan Persija
Sepakbola
18 jam yang lalu
Denlson Junior Siap Hadapi Laga Panas Lawan Persija
Home  /  Berita  /  Kriminal

Cerita Politisi Golkar Pernah Usulkan Penurunan Threshold

Cerita Politisi Golkar Pernah Usulkan Penurunan Threshold
Ketua Komisi II DPR RI Ahmad Doli Kurnia dalam suatu kesempatan. (gambar: ist./antara)
Senin, 01 November 2021 12:51 WIB
JAKARTA - Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Ahmad Doli Kurnia Tandjung dalam sebuah pernyataanya yang dikutip di Jakarta, Senin (1/11/2021) mengungkapkan, pernah mengusulkan penurunan syarat ambang batas pencalonan presiden (Presidential Threshold) agar Pilpres bisa dikuti oleh lebih banyak pasangan calon.

"Kami waktu itu mengusulkan ada perubahan (presidential threshold, red) mungkin 10-15 persen saja gitu ya, tidak seperti yang sekarang 20-25 persen," kata Doli Kurnia dikutip GoNEWS.co dari Antaranews.com.

Dengan ketentuan Presidential Threshold turun menjadi 10-15 persen, menurut Doli, koalisi partai politik setidaknya dapat memunculkan lebih dari dua pasangan calon.

"Memang harus ada proses seleksi yang ketat kepada calon-calon presiden, tetapi kita tidak boleh membatasinya menjadi terlalu sempit," kata politisi Golkar itu.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Sumber:antaranews.com
Kategori:Metropolitan, Nasional, Kriminal, DKI Jakarta
wwwwww