Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
7 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
2
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
Metropolitan
16 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
3
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Umum
8 jam yang lalu
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
4
Gibran Tak Penuhi Syarat Wapres Usai Putusan MA, Bola Panas Kini di Tangan Prabowo
Umum
10 jam yang lalu
Gibran Tak Penuhi Syarat Wapres Usai Putusan MA, Bola Panas Kini di Tangan Prabowo
5
‎Pulogebang Terima Apresiasi Rp100 Juta dari PAM JAYA Berkat Perluasan Layanan Air
Metropolitan
23 jam yang lalu
‎Pulogebang Terima Apresiasi Rp100 Juta dari PAM JAYA Berkat Perluasan Layanan Air
6
KPK Geledah PT Djarum Kudus, Dugaan Manipulasi Cukai Belasan Tahun Rugikan Negara Triliunan
Hukum
11 jam yang lalu
KPK Geledah PT Djarum Kudus, Dugaan Manipulasi Cukai Belasan Tahun Rugikan Negara Triliunan
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Pimpinan SKK Migas yang Baru Diminta Tingkatkan Program 1 Juta Barel Minyak

Pimpinan SKK Migas yang Baru Diminta Tingkatkan Program 1 Juta Barel Minyak
Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS Mulyanto. (Foto: istimewa)
Selasa, 06 Desember 2022 14:44 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS Mulyanto mendesak pimpinan baru SKK Migas yang baru dilantik Menteri ESDM (Senin, 5/12/2020), agar menggenjot program 1 juta BPH (barel per hari) minyak di tahun 2030.

Ia berharap target tersebut dapat tercapai, syukur-syukur bisa lebih cepat dari jadwal. Karena angka target sudah disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi cadangan migas yang ada.

"Jangan seperti sekarang ini, pemerintah hanya gembar-gembor jargon 1 juta barel minyak, namun faktanya setiap tahun target lifting tersebut terus merosot menjadi sekitar 600 ribu BPH," ujar Mulyanto kepada GoNews.co di Jakarta, Selasa ( 6/12/2022).

Menurut Mulyanto, realisasi target tersebut juga tidak seratus prosen tercapai tetapi malah menjauh. "Artinya target lifting kita bukan mendekati 1 juta BPH, tetapi malah menjauhi. Ini kan kontradiktif, aneh bin ajaib," ujar Mulyanto.

Mulyanto, menambahkan Pimpinan SKK Migas yang baru ini juga agar proaktif mengkaji dengan matang terkait dengan revisi UU Migas. "Jangan seperti sekarang dimana Pemerintah terkesan plin-plan dalam melaksanakan perintah MK untuk merevisi UU Migas ini, khususnya terkait dengan kelembagaan Badan Pelaksana Hulu Migas," tuturnya.

Mukyanto menambahkan SKK Migas ini kan lembaga sementara. Namun sudah hampir sepuluh tahun tetap dipertahankan. Ini kan soal kepastian hukum di bidang migas. "Jadi jangan heran kalau soal ini diduga menjadi salah satu penyebab hengkangnya investor raksasa migas seperti ConocoPhilip, Chevron, Shell, dll. dari Indonesia," tegas Wakil Ketua FPKS DPR RI ini.

Mulyanto mengatakan di tengah industri migas yang semakin senja kala didesak oleh energi baru dan terbarukan (EBT), serta impor kita yang masih tetap tinggi di saat harga melambung, semestinya Pemerintah segera merumuskan grand desain strategi pengembangan migas ke depan, termasuk soal kelembagaannya. "Bila tidak kita akan terus menjadi aktor pinggiran yang pontang-panting terimbas turbulensi dinamika lingkungan strategis," tandas Mulyanto.***

wwwwww