Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
18 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
21 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
17 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
4
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
19 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
5
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
24 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
6
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Sepakbola
15 jam yang lalu
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Home  /  Berita  /  Olympic

Survei: PAN Dongkrak Elektabilitas Usai Berhasil Rangkul NU

Survei: PAN Dongkrak Elektabilitas Usai Berhasil Rangkul NU
Ketua Umum (Ketum) Partai Amanat Nasional (PAN) melakukan giat Senam Sehat Birukan Langit Indonesia di Lapangan Sempur Kota Bogor, Sabtu (14/1/2023), pagi. (Dok. Istimewa)
Sabtu, 11 Maret 2023 21:10 WIB

JAKARTA - Lembaga Indonesia Political Opinion (IPO) merilis hasil survei terbarunya. Tercatat, elektabilitas Partai Amanat Nasional (PAN) naik ke posisi 7 dari urutan 9 berdasarkan hasil survei serupa pada periode Oktober 2022.

Menurut Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, melonjaknya suara PAN dari 2,1 persen menjadi 5,0 persen hingga melampaui Partai Keadilan Sosial (PKS) menjadi hal menarik. Dedi menganalisis, salah satu sebabnya adalah faktor Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan yang membangun kedekatan dengan tokoh nasional, salah satunya Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf.

"Gus Yahya yang pada momentum peringatan satu abad NU yang diadakan PAN pada medio Februari lalu sebagai partai rasional dan tidak mengharamkan warga nadhliyin mencoblos atau memilih PAN pada Pemilu 2024, itu turut berkontribusi positif pada naiknya elektabilitasnya," yakin Dedi dalam keterangan diterima, Sabtu (11/3/2023).

Dedi yakin, pidato itu menjalar ke pemilih nahdliyin. Hasilnya, mereka tidak lagi terkonsentrasi pada PKB atau PPP dan di luar Jawa justru menjadi wilayah PAN. "Ini kabar baik untuk PAN agar semakin gencar promosikan hubungan NU dan PAN," saran Dedi.

Diketahui, menurut survei nasional IPO yang digelar 1-7 Maret 2023, elektabilitas PAN hanya terpaut 1,6% dengan elektabilitas PKB (7,6%). Hal itu tidak terlepas dari kemampuan PAN mengais suara dari ceruk kaum nahdliyin.

"Tidak bisa dialihkan dari pikiran publik, bahwa pemilih NU mayoritas, dan membaca elektabilitas PKB atau PPP, rasanya tidak semua tertampung di sana, ini momentum bagi PAN menyasar mereka," dia menutup.

Sebagai informasi, survei IPO dilakukan secara tatap muka melibatkan 1.200 responden. Pada tahap awal, IPO terlebih dulu menentukan sejumlah desa untuk menjadi sample, pada setiap desa akan dipilih secara acak menggunakan random kish grid paper sejumlah 5 RT, pada setiap RT dipilih 2 keluarga, dan setiap keluarga akan dipilih 1 responden dengan pembagian laki-laki untuk kuesioner bernomor ganjil, perempuan untuk bernomor kuesioner genap, total responden laki-laki dan perempuan pada pembagian 50:50 persen.

Selanjutnya, pada tiap-tiap proses pemilihan selalu menggunakan alat bantu berupa lembar acak. Survei ini memiliki margin of error 2,5 persen dengan tingkat akurasi data 95 persen. Setting pengambilan sampel menggunakan teknik multistage random sampling (MRS) atau pengambilan sampel bertingkat.

Berikut elektabilitas 10 besar partai politik versi survei IPO saat responden ditanya: "Jika hari ini dilaksanakan pemilihan umum, partai politik apa yang akan Bapak/Ibu pilih?"

1. PDI Perjuangan (23,9%)

2. Partai Golkar (11,5%)

3. Partai Demokrat (10,1%)

4. Partai Gerindra (9,9%)

5. Partai Kebangkitan Bangsa (7,6%)

6. Partai Nasional Demokrat (7,2%)

7. Partai Amanat Nasional (5,0%)

8. Partai Keadilan Sejahtera (4,9%)

9. Partai Persatuan Indonesia (4,1%)

10. Partai Persatuan Pembangunan (1,7%)***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Olympic, Voli, Metropolitan, DKI Jakarta
wwwwww