Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
16 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
19 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
15 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
4
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
17 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
5
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
22 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
6
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Sepakbola
13 jam yang lalu
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Home  /  Berita  /  Nasional

Anton Apriantono: Anggaran Program MBG Harus Sinergi Dengan Program Swasembada Pangan

Anton Apriantono: Anggaran Program MBG Harus Sinergi Dengan Program Swasembada Pangan
Menteri Pertanian Periode 2004-2009, Anton Apriantono. (Ist)
Rabu, 29 Januari 2025 14:53 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Menteri Pertanian Periode 2004-2009, Anton Apriyantono menilai pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) dapat terlaksana secara berkesinambungan bila disinergikan dengan program swasembada pangan.

Anggaran MBG yang sangat besar akan lebih bermanfaat bila beberapa bagiannya dialokasikan untuk pencapaian program swasembada pangan. Sehingga kebutuhan pangan program MBG dapat dipenuhi sendiri tanpa harus impor secara berlebihan.

Anton menilai saat ini pelaksanaan program MBG masih bergantung pada bahan impor. Dalam jangka panjang model pengadaan bahan makanan seperti ini akan menguras anggaran tapi tidak berdampak bagi petani, peternak dan nelayan dalam negeri.

"Program MBG harusnya menjadi kesempatan untuk mengangkat pangan lokal Indonesia melalui pemetaan potensi daerah.

Anggaran yang besar jangan hanya dialokasikan untuk sektor belanja bahan makanan tapi harus dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur pertanian, perikanan dan peternakan.

Kalau pengembangan infrastruktur ini dapat berjalan maka keberlangsungan MBG bisa terus terlaksana dengan anggaran yang lebih efisien.

Tapi kalau modelnya masih seperti sekarang maka program ini hanya akan menghabiskan anggaran yang menguntungkan pedagang, importir dan pengusaha tertentu," terang Menteri Pertanian yang berhasil mencapai swasembada pangan di tahun 2008 ini.

Anton minta Pemerintah perlu menyesuaikan menu MBG berdasarkan kearifan lokal masing-masing wilayah. Menu MBG tidak bisa disamaratakan karena kebutuhan dan ketersediaan bahan pangan di tiap daerah berbeda.

Pemerintah harus fokus pada pemenuhan gizi minimum dan bukan pada penyeragaman jenis makanan yang dihidangkan. "Kuncinya adalah kemampuan menyusun menu yang disesuaikan dengan kemampuan pasokan dari lokal,” ujar Anton dalam forum diskusi publik MITI dan CSDS, Jum’at (24/01/2025).

Hal lain yang perlu dilakukan Pemerintah, menurut Anton adalah perlunya meningkatkan program intensifikasi yang masih didominasi oleh bantuan-bantuan.

Menurutnya, bantuan dari pemerintah harus disertai dengan pendampingan untuk meningkatkan produksi, salah satunya dengan Sekolah Lapang. “Sekolah Lapang inilah yang disebut integrasi, di satu sisi menjadi tempat belajar petani, tapi juga menjadi tempat bekerjanya penyuluh” ucap Anton di forum yang sama. ***

wwwwww