Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
16 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
14 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
3
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
4 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
4
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
4 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
5
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
4 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
6
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
5 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Home  /  Berita  /  Beladiri

Dua Napi Tewas di Lapas Bukittinggi, DPR Soroti Lemahnya Pengawasan

Dua Napi Tewas di Lapas Bukittinggi, DPR Soroti Lemahnya Pengawasan
Anggota Komisi XIII DPR RI Mafirion di Kompleks Parlemen, Jakarta. (antara/ho-dpr ri).
Sabtu, 03 Mei 2025 19:02 WIB

JAKARTA – Tragedi pesta minuman oplosan yang menewaskan dua narapidana dan meracuni puluhan lainnya di Lapas Kelas II Bukittinggi memicu desakan keras dari DPR RI. Anggota Komisi III DPR, Mafirion, menilai kejadian ini sebagai bukti lemahnya pengawasan sistem pemasyarakatan di Indonesia.

"Ini bukan sekadar kelalaian biasa, tapi kegagalan sistemik. Lapas seharusnya tempat pembinaan, bukan arena kematian," ujar Mafirion, Sabtu (3/5), di Jakarta.

Peristiwa ini mencuat setelah napi diketahui meracik alkohol dari bahan pembuatan parfum dan mencampurnya dengan minuman sachet. Hasil oplosan tersebut dikonsumsi secara massal di dalam lapas hingga menyebabkan dua orang tewas dan 23 lainnya keracunan.

Menurut Mafirion, insiden ini bukan kejadian tunggal. Sebelumnya, kasus serupa juga terjadi di Rutan Pekanbaru yang melibatkan napi dalam pesta miras dan narkoba. Ia menyebut hal ini sebagai alarm serius bagi pemerintah.

"Belum tuntas satu kasus, muncul lagi kasus baru. Kita tidak bisa terus memaafkan kelalaian ini. Barang terlarang bebas beredar di dalam penjara. Sampai kapan?" katanya dengan nada geram.

Ia menuntut Direktorat Jenderal Pemasyarakatan segera diperiksa secara menyeluruh, termasuk para pejabatnya. Ia juga menegaskan bahwa sanksi ringan tidak lagi relevan.

"Penundaan kenaikan pangkat atau rotasi jabatan bukan solusi. Jika terbukti lalai, harus ada sanksi berat," tegasnya.

Lebih jauh, Mafirion meminta investigasi independen dilakukan secara terbuka, serta mendorong penegakan hak-hak warga binaan sebagai tanggung jawab negara.

"Mereka tetap manusia yang harus dilindungi. Kematian napi bukan angka statistik, tapi tragedi kemanusiaan," ungkapnya.

Ia menyesalkan belum seriusnya pemerintah dalam menindaklanjuti peta jalan reformasi sistem pemasyarakatan yang sejak lama diusulkan DPR.

"Kalau tidak ada reformasi nyata, jangan kaget kalau kejadian seperti ini akan terus berulang," tutupnya. (ant)

Editor:Muhammad Rafdinal Adrianto
Kategori:Nasional, Beladiri
wwwwww