Emergency Medical Team ke-2 BSMI Bawa Cerita Pilu Kemanusiaan di Gaza
![]() |
| Emergency Medical Team ke-2 BSMI tiba di Tanah Air usai jalankan misi kemanusiaan di Gaza. (Ist) |
Minggu, 04 Mei 2025 20:40 WIB
Penulis: Azhari Nasution
Penulis: Azhari Nasution
Setelah melaksanakan tugas kemanusiaan mulai 15-29 April 2025 Emergency Medical Team (EMT) ke-2 Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) untuk Gaza, Palestina sudah kembali ke tanah air.
Lima dokter spesialis yang tergabung dalam EMT 2 BSMI masing-masing adalah
Prof. Dr. dr. Basuki Supartono, Sp.OT, FICS, MARS (Spesialis Ortopedi); dr. Prita Kusumaningsih, Sp.OG (Spesialis Obgyn/Kandungan); dr. Nurcholis Hendry Nugraha, Sp.An (Spesialis Anastesi); dr. Harfindo Nismal, Sp.BM (Spesialis Bedah Mulut); drg. Muchamad Sarbini Wahid (Dokter Gigi).
Prof. Dr. dr. Basuki Supartono, Sp.OT, FICS, MARS mengatakan, perjalanan menuju Gaza dari Indonesia tidaklah mudah. Namun demikian, berkat pertolongan Allah, niat untuk membantu sesama Muslim di Gaza berhasil terlaksana.
"Ada proses panjang yang harus dilalui. Berbekal kesabaran dan pertolongan Allah, alhamdulillah kami bisa melaksanakan misi untuk membantu saudara-saudara kita di Gaza, Palestina," kata Basuki, saat acara konferensi pers di salah satu restoran di Jalan Raya Pondok Gede, Kelurahan Pinang Ranti, Makasar, Jakarta Timur, Minggu (4/5) sore.
Basuki menjelaskan, kondisi di Gaza sangat memilukan, bangunan-bangunan hancur hingga tidak adanya suplai air bersih.
"Layanan kesehatan juga penuh dengan keterbatasan, namun semua dokter di sana tetap memberikan pelayanan terbaik. Meski kadang di IGD itu bisa mencapai 1.000 pasien," ungkapnya.
Menjadi satu-satunya perempuan yang tergabung dalam EMT 2 BSMI, dr. Prita Kusumaningsih, Sp.OG menuturkan, rakyat Palestina di Gaza hidup dalam kondisi yang begitu sulit di tengah serangan agresor Israel.
"Banyak perempuan di sana mengalami keguguran yang diduga dipicu tingkat kelelahan yang tinggi pada ibu mengandung. Kemudian, ada juga bayi-bayi yang terlahir prematur dan berkondisi malnutrisi," ucapnya.
Menurutnya, kondisi bayi malnutrisi ini juga dipicu karena kondisi ibu hamil yang juga tidak mendapatkan asupan gizi yang baik.
"Makanan, minuman hingga obat-obatan masih sangat terbatas. Rumah sakit juga mengalami kekhawatiran saat terjadi serangan Israel karena fasilitas NICU yang bisa saja tidak dapat beroperasi dengan baik," ungkapnya.
Sementara itu, membacakan pernyataan sikap terkait kondisi krisis kemanusiaan di Gaza, Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional BSMI, Muhamad Djazuli Ambari menyampaikan, mendesak dihentikannya serangan ke Gaza secepatnya.
"BSMI menyerukan kepada seluruh pihak terkait dan komunitas internasional untuk mengupayakan penghentian segera atas seluruh serangan militer Israel ke Gaza, serta melakukan gencatan senjata yang menyeluruh dan jangka panjang demi melindungi keselamatan warga sipil serta menjamin ketenangan kemanusiaan di wilayah tersebut," tegasnya.
BSMI, lanjut Djazuli, juga mendesak dibukanya koridor bantuan kemanusiaan secepatnya. BSMI telah mengirimkan EMT 1 dan EMT 2 ke Gaza yang terdiri dari tujuh dokter spesialis. Mereka telah melihat dan membantu langsung warga Gaza yang memerlukan layanan kesehatan dengan berpraktik di RS Europa Gaza dan RS Al Nasser Gaza.
Namun demikian, tanpa adanya jalur kemanusiaan yang terbuka dan aman, aktivitas layanan kesehatan hanya akan mampu bertahan paling lama 40 hari ke depan.
Saat ini, ketersediaan makanan, khususnya sumber protein sangat terbatas. Tanpa dibukanya koridor bantuan kemanusiaan segera, jutaan nyawa rakyat Gaza akan terancam karena krisis kelaparan dan kesehatan yang semakin memburuk.
"BSMI mendorong Pemerintah Republik Indonesia untuk terus mendesak PBB serta melakukan diplomasi dengan Pemerintah Mesir untuk mengkoordinir pembukaan perbatasan demi masuknya bantuan kemanusiaan," paparnya.
Djazuli menjelaskan, BSMI juga mendorong pengiriman bantuan segera, termasuk bantuan medis dan tenaga medis.
BSMI menyerukan agar bantuan ke Palestina terus dilakukan. Sebab, melihat kondisi fakta di lapangan saat ini, membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun untuk membangun kembali Gaza seperti semula.
Untuk itu, gotong royong menyiapkan dan mengirim bantuan ke Gaza perlu terus dilakukan. BSMI mendorong agar Pemerintah Republik Indonesia dapat menggalang bantuan dari negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk mengirim bantuan logistik, medis, dan membangun kembali Gaza.
BSMI, imbuh Djazuli, juga mengajak rekan sejawat tenaga medis di Indonesia untuk bergabung dalam Emergency Medical Team untuk melaksanakan misi kemanusiaan bagi warga Gaza.
Ia juga mengimbau kepada seluruh rakyat Indonesia agar terus konsisten memberikan dukungan kepada rakyat Palestina dengan berbagai bentuk kepedulian.
"BSMI mengajak seluruh elemen masyarakat, lembaga kemanusiaan, dan Pemerintah Indonesia maupun komunitas internasional untuk mendorong terciptanya solusi damai dan penguatan aksi kemanusiaan demi menyelamatkan kehidupan di Gaza," pungkas Djazuli. ***













