Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
Hukum
10 jam yang lalu
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
2
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Hukum
12 jam yang lalu
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
3
NOC Indonesia Perkuat Kolaborasi dengan ITTF, IPL Siap Gelar WTT Youth 2027 di Bali
KOI
11 jam yang lalu
NOC Indonesia Perkuat Kolaborasi dengan ITTF, IPL Siap Gelar WTT Youth 2027 di Bali
4
BMKG Prakirakan Hujan Membasahi Sejumlah Wilayah Jabodetabek Hari Ini
Metropolitan
17 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Hujan Membasahi Sejumlah Wilayah Jabodetabek Hari Ini
5
‎Adi Kurnia Setiadi: Bongkar Tuntas Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo
Hukum
9 jam yang lalu
‎Adi Kurnia Setiadi: Bongkar Tuntas Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo
6
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
Umum
7 jam yang lalu
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
Home  /  Berita  /  Beladiri

Azas Tigor: Premanisme di Sektor Transportasi Perlu Segera Diselesaikan

Azas Tigor: Premanisme di Sektor Transportasi Perlu Segera Diselesaikan
Analis Kebijakan Transportasi, Azas Tigor Nainggolan bersama pengemudi ojek daring. (Ist)
Sabtu, 17 Mei 2025 14:36 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Banyak ahli transportasi mengamati dan menggunakan penyelesaian masalah transportasi hanya gunakan satu pendekatan, secara teknis transportasi. Model pendekatan ini kurang dapat menyelesaikan masalah transportasi yang ada. Masalahnya terus tidak selesai dan bahkan menjadi bertambah berat persoalannya.

Analis Kebijakan Transportasi, Azas Tigor Nainggolan mengatakan, masalah transportasi seperti keselamatan atau kemacetan, latar belakang masalahnya juga ada dari masalah sosial, ekonomi, hukum dan politik, tidak hanya soal teknis. Misalnya saja, masalah transportasi yang terjadi di Indonesia selama ini ada juga disebabkan oleh masalah sosial penegakan hukum yakni dalam maraknya soal premanisme berseragam maupun tidak berseragam di sektor transportasi. 

 
"Mari kita lihat masalah premanisme di sektor transportasi, seperti di masalah parkir dan misalnya praktek premanisme di bisnis truk obesitas," kata Tigor, dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu (17/5/2025).
 
Menurut Tigor, premanisme di bisnis parkir sudah lama terjadi dan terus tidak diselesaikan. Masalah premanisme di bisnis parkir akhirnya memang merusak manajemen dan fungsi parkir itu sendiri. Parkir memiliki fungsi sebagai sub sistem transportasi, sumber pendapatan daerah dan pelayanan publik. 
 
"Sebagai sub sistem transportasi seharusnya manajemen parkir dapat menjadi alat bantu memecahkan transportasi," terangnya.
 
Dia mencontohkan, Jakarta yang memiliki masalah transportasi yakni kemacetan, bisa dibantu pemecahannya dengan membuat manajemen parkir yang baik. Parkir bisa memecahkan masalah transportasi dengan membangun sistem parkir terbatas dan mahal. 
 
"Parkir di kota dilakukan dengan terbatas dan dipersulit ruang parkirnya agar masyarakat tidak mudah membawa kendaraan bermotor pribadi ke tengah kota. Dibuat terbatas, kalo pun ada harganya dibuat mahal sekali semakin ke tengah kota," ujarnya.
 
Tigor menjelaskan, premanisme merusak sistem parkir dengan membangun sistem sendiri yakni dengan sistem parkir liar. Para preman menguasai badan jalan yang seharusnya tidak boleh atau dilarang untuk parkir menjadi tempat parkir liar. Keberadaan parkir liar ini membuat badan jalan menyempit dan kemacetan. 
 
"Penguasaan badan jalan menjadi tempat parkir liar ini membuat masyarakat mendapat fasilitas memudahkan membawa kendaraan pribadi ke tengah kota. Praktek parkir liar ini menguasai ruang kota seperti di jakarta dan menghasilkan pendapatan pungutan liar (pungli) setidaknya Rp 38 miliar per bulan," bebernya.
 
Ia menegaskan, keberadaan parkir liar terus berjalan tanpa penegakan dari pengelola kota karena banyak aparat yang berperan juga sebagai preman berseragam melindungi preman parkir liar. Lihat saja Unit Pengelola (UP) Perparkiran Jakarta ditegur keras oleh DPRD Jakarta karena pendapatannya hanya mampu menghasilkan uang Rp 30 miliar bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jakarta. 
 
Kecilnya pendapatan parkir dari retribusi parkir ini membuat DPRD Jakarta meminta UP Perparkiran Perkiraan Jakarta dibubarkan saja. Sebaiknya manajemen UP Perparkiran yang diperbaiki agar parkir bisa menjadi alat bantu memecahkan masalah macet dan memberikan PAD Jakarta yang besar. 
 
"Perbaikan bisa dilakukan justru dengan membubarkan premanisme di Jakarta dengan tegas sampai ke akarnya yang selama ini belum mau dilakukan," ucapnya.
 
Begitu pula dengan premanisme di bisnis operasi truk obesitas, lanjut Tigor, kelebihan muatan karena badan truk sudah dimodifikasi secara ilegal. Awalnya truk diberi tulisan atau logo sebagai simbol jasa pengawalan truk agar aman dari perampokan atau bajing loncat saat di jalan. 
 
Seiring berjalannya waktu, jasa pengawalan kemanan itu juga berubah menjadi pengawalan agar tidak ditindak oleh di jalan. Jasa itu digunakan oleh truk obesitas, sering diberi tanda dengan tulisan tertentu seperti Gajah Oling atau HMS atau Logo ormas tertentu. 
 
Banyak model tulisan lainnya di badan truk obesitas sebagai tanda bahwa truk tersebut bagian pengawalan oknum aparat keamanan berseragam atau juga ormas. Tulisan tanda ini artinya si pemilik bisnis truk ini dikawal dan sakti agar tidak disetop petugas polisi saat beroperasi di jalan dan meminimalkan pungli.  
 
Bahkan, ada truk obesitas kelebihan muatan berjalan atau berhenti terang-terangan di jalan tol tidak ada petugas yang mau memeriksa apalagi menindak pelanggarannya. Ada juga truk obesitas langsung dikawal oleh aparat keamanan berseragam lengkap dengan senjatanya. 
 
"Akibatnya, petugas di jembatan timbang atau petugas jalan raya tidak berani menyetop apalagi menindak pelanggaran sesuai aturan lalu lintas. Padahal truk tersebut sudah jelas obesitas dan muatannya sudah melebihi kapasitas angkutnya," ungkapnya.
 
Ia menuturkan, kondisi pelanggaran truk obesitas atau sering disebut sebagai truk Over Dimensi Over Loading (ODOL) atau truk obesitas dan kelebihan muatan sudah tidak laik jalan. Sehingga, seringkali truk obesitas ini menjadi penyebab kecelakaan lalu lintas seperti yang banyak terjadi di jalan raya reguler atau di jalan tol. 
 
Tulisan atau logo ormas merupakan praktik premanisme di sektor transportasi yang masih banyak hingga saat ini. Premanisme ini menjual kesaktian atau jaminan meminimalkan pungli lancar beroperasi di jalanan walau ada petugas yang melihat. Menggunakan logo atau tulisan tersebut, supir truk merasa aman dari intimidasi pihak-pihak tertentu selama di jalan.
 
"Ada sejumlah biaya yang harus disetorkan kepada oknum, ormas atau LSM yang menjual pengawalan atau tulisan atau logo yang diletakkan di truknya. Praktik ini sama saja pungli yang harus diberantas jika ingin menyelesaikan masalah transportasi yang ditimbulkannya. Ketegasan menindak ini juga agar tidak ada lagi preman yang mengatasnamakan LSM, ormas atau aparat kemananan," imbuhnya.
 
Tigor meminta, praktik premanisme menjual pengawalan truk obesitas ini harus segera dibersihkan dan ditindak tegas jika mau menghentikan praktek truk obesitas atau truk ODOL. Bertindak tegas terhadap truk obesitas akan berdampak positif yakni menghentikan atau mencegah terjadi kecelakaan lalu lintas yang banyak sekali di jalan raya dan jalan tol. 
 
Aparat keamanan bukan tidak tahu praktek jasa pengawalan ilegal ini dan siapa saja yang terlibat. Masalahnya adalah mereka tidak mau menegakan atau menindak karena seperti "jeruk makan jeruk". Artinya, pelaku dan petugas bisa jadi berasal dari instansi yang sama atau saling kenal. 
 
Untuk menyelesaikan dan mencegah terjadinya masalah transportasi tidak bisa hanya didekati dengan langkah teknis saja. Memecahkan masalah transportasi perlu juga menggunakan pendekatan non teknis sesuai dengan akar masalah non teknis seperti masalah ekonomi, sosial dan penegakan hukum. 
 
Pendekatan nonteknis yang harus dilakukan adalah menghabiskan dan menindak tegas para pelaku praktek premanisme di sektor transportasi. Dua contoh praktik premanisme di bisnis parkir dan truk obesitas hanya contoh nyata yang merusak transportasi. Hampir seluruh bisnis sektor transportasi di Indonesia dikuasai praktek premanisme dan dibiarkan rusak berkelanjutan. 
 
Tidak ada kesulitan jika memang pemerintah mau menindak serta menghabiskan premanisme di sektor transportasi. Sektor transportasi memang rentan dan sering dirusak oleh premanisme.
 
"Pemecahannya hanya tergantung dari kemauan aparat penegak hukum atau pemerintah untuk menghabiskan premanisme yang melingkupi transportasi. Negara dan pemerintah tidak boleh kalah oleh premanisme agar rakyat bisa bertransportasi dengan aman dan nyaman," pungkas Tigor. ***

Kategori:Nasional, Beladiri
wwwwww