Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
Hukum
14 jam yang lalu
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
2
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
Umum
11 jam yang lalu
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
3
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Hukum
16 jam yang lalu
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
4
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
Umum
12 jam yang lalu
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
5
NOC Indonesia Perkuat Kolaborasi dengan ITTF, IPL Siap Gelar WTT Youth 2027 di Bali
KOI
15 jam yang lalu
NOC Indonesia Perkuat Kolaborasi dengan ITTF, IPL Siap Gelar WTT Youth 2027 di Bali
6
‎Adi Kurnia Setiadi: Bongkar Tuntas Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo
Hukum
13 jam yang lalu
‎Adi Kurnia Setiadi: Bongkar Tuntas Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Ekonom Nilai Job Fair Cikarang Cerminkan Krisis Pasar Kerja, Minta Pemerintah Ambil Langkah Nyata

Ekonom Nilai Job Fair Cikarang Cerminkan Krisis Pasar Kerja, Minta Pemerintah Ambil Langkah Nyata
Event job fair yang diselenggarakan Pemkab Bekasi di Gedung Convention Center Presiden University, Jababeka, Cikarang Utara.
Jum'at, 30 Mei 2025 08:39 WIB

CIKARANG – Sedikitnya 25.000 pencari kerja memadati job fair di Gedung Convention Center Presiden University, Jababeka, Cikarang Utara, Selasa (27/5/2025). Mereka bersaing memperebutkan 2.517 lowongan pekerjaan dari 64 perusahaan peserta.

Tingginya selisih antara jumlah pelamar dan lowongan menyoroti ketimpangan serius di pasar tenaga kerja. Situasi ini dinilai mencerminkan minimnya lapangan kerja di tengah tingginya angka pengangguran.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai ketimpangan tersebut diperburuk oleh meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dominasi pekerja informal di Indonesia.

"Wajar jika setiap job fair selalu penuh sesak. Banyak orang mencari pekerjaan atau setidaknya pekerjaan yang lebih layak," ujar Wijayanto, Rabu (28/5/2025).

Ia menjelaskan, dua penyebab utama ketimpangan itu adalah perlambatan ekonomi dan deindustrialisasi. Menurutnya, kedua faktor ini membuat banyak sektor usaha terhenti atau menyusut sehingga menurunkan kapasitas serapan tenaga kerja.

Wijayanto menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia, baik bagi mereka yang sudah bekerja maupun yang masih mencari kerja.

"Bagi yang sudah bekerja, perbaiki kinerja agar posisi tidak rentan. Bagi yang belum, tingkatkan keterampilan agar lebih relevan dengan kebutuhan industri," jelasnya.

Di tengah keterbatasan lowongan, jalur kewirausahaan dinilai layak dipertimbangkan sebagai solusi alternatif. "Jangan hanya bergantung pada peluang kerja formal. Kewirausahaan bisa jadi jalan keluar," tambahnya.

Meski menyambut baik rencana pemerintah meluncurkan enam paket kebijakan ketenagakerjaan pada Juni mendatang, Wijayanto menilai langkah itu belum cukup menjawab kompleksitas masalah pasar kerja.

Ia mendorong adanya program jangka pendek yang mampu langsung menciptakan lapangan kerja dan mendorong daya beli masyarakat.

"Contohnya, proyek padat karya di bawah Kementerian PUPR, pembangunan rumah rakyat, serta pemangkasan anggaran rapat dan perjalanan dinas di kementerian," urainya.

Tak hanya itu, ia menyoroti pentingnya perbaikan iklim usaha untuk menarik dan memperluas investasi. Pemerintah juga diminta tegas memberantas penyelundupan dan praktik underground economy yang merusak daya saing pelaku usaha domestik.

Wijayanto juga menegaskan pentingnya memperluas pasar ekspor melalui perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement) dengan berbagai negara.

"Langkah ini mendesak dilakukan, apalagi ketidakpastian global akibat perang dagang belum jelas ujungnya," ungkapnya.***

Editor:Muhammad Rafdinal Adrianto
Sumber:kompas.com
Kategori:Voli, Metropolitan, Ekonomi, Jawa Barat
wwwwww