Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
Hukum
18 jam yang lalu
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
2
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
Hukum
14 jam yang lalu
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
3
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
Umum
15 jam yang lalu
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
4
Ketua Umum PB KAMI Dukung Langkah Tegas Kapolri Bersihkan Institusi
Hukum
20 jam yang lalu
Ketua Umum PB KAMI Dukung Langkah Tegas Kapolri Bersihkan Institusi
5
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
Olympic
10 jam yang lalu
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
6
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Metropolitan
10 jam yang lalu
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Home  /  Berita  /  Non Olympic

Petenis Junior Indonesia Sabet Tiga Gelar Juara DIJC 2025

Petenis Junior Indonesia Sabet Tiga Gelar Juara DIJC 2025
Mischka Sinclaire Goenadi dan Shinar Zahra Shukayna Heriyadi. (Ist)
Minggu, 01 Juni 2025 21:04 WIB
Penulis: Azhari Nasution
SUKOHARJO - Tiga petenis junior Indonesia memanen gelar dari empat nomor yang dipertandingkan pada turnamen tenis bertajuk Detec International Junior Championship (DIJC) 2025. Dalam pertandingan final yang berlangsung di lapangan tenis Gelora Merdeka, Sukoharjo, Jawa Tengah, Minggu (1/6/2025), Mischka Sinclaire Goenadi, Shinar Zahra Shukayna Heriyadi, dan Michal Ihsan Wicaksana merebut gelar juara.

Ketangguhan tiga petenis tersebut memang telah teruji di turnamen resmi internasional. Sebagai unggulan, penampilan mereka memenuhi ekspetasi, atau bahkan melampauinya.

Michal Ihsan meraih trofi tunggal ITF Junior perdana pada tahun ini—trofi keempatnya di level pembuka. Main di kandang, binaan Kentoeng Tennis Academy mengatasi rekannya, unggulan keempat, Akmal Junaini, 6-4, 6-1.

“Pertandingannya berlansung seru dan ketat. Akmal terus memberikan perlawanan, berapa pun skornya. Alhamdulillah, ketenangan dan konsistensi saya memberikan kemenangan pada final ini,” ujar Michal, belia 18 tahun yang meraih dua trofi ganda ITF berpasangan Akmal, di Jember dan Singapura.

Hanya saja, Akmal memang tidak dapat tampil sempurna pada partai puncak ini. Di tengah set kedua, kaki kirinya mengalami kram dan butuh pertolongan medis. Sebab itu, bagel mau tak mau dimakannya.

Bagaimana pun juga, keberhasilan ini menuntaskan dahaga Michal akan gelar tunggal ITF. Bukan waktu puasa yang sebentar, penggemar Tegar Abdi ini mesti mencari selama empat tahun sejak memulai karir.

Sayangnya, perolehan trofi Michal tidak bertambah pada seri ini. Duetnya bersama Raphael Rio Suryana kandas di semi final. Duo Sukoharjo ini mengakui duo Tiongkok, Luxuan Xie/Shao Zhang, 6-2, 5-7, 7-10—duo ini akhirnya menyerahkan trofi ganda ke duo Taiwan, Weibo Huang/Ting-Ho Yang, 4-6, 2-6.

Sementara itu, Mischka menyapu bersih sektor putri. Ini adalah perkawinan gelar tunggal dan ganda ketiganya. Pada final tunggal, atlet binaan Next Gen Tennis Academy Jakarta meraih trofi tunggal keempatnya setelah menyudahi petenis Tiongkok, Siyun Xiao, 6-4, 6-4. Pada final ganda, Mischka/Shinar mengatasi duo gado-gado Indonesia-Tiongkok, Jeanne Lynn Hartono/Jihan Li. Di partai puncak ideal, unggulan pertama mengamini prediksi atas kertas lewat kemenangan dua set, 6-1, 7-6(4).

“Ini pertama kali, kami tampil bersama. Seneng banget bisa langsung meraih gelar juara,” papar Shinar, selepas berkalung emas ITF perdananya pada tahun ini sekaligus emas ganda kelima di sepanjang karir.

“Tapi, chemistry kami sudah ada dari lama kok,” timpal Mischka, “Kami temenan udah dari kecil. Dulu, kami sempat berlatih bersama di salah satu klub di Jakarta. Jadi, gampang aja buat kami main kompak.”

Sekalipun begitu, Mischka/Shinar sempat limbung pada set kedua. Keunggulan tiga game-nya terkikis perlahan-lahan. Setelah memberikan bagel pada set pertama, mereka terkejut ketika Joanne/Jihan menembak dengan lebih terarah. Ketidaksigapan dalam bertahan pun memberikan set ini tie break.

Mischka, pemilik sepuluh trofi ganda ITF, memaparkan bahwa, “kami juga kehilangan fokus di set ini. Pukulan mereka lebih jarang mati, masuk terus, skor kecilnya ketat terus. Nembaknya jadi ragu-ragu.”

Keragu-raguan itu memantik diskusi pada jeda jelang tie break. Mereka mengakui dan bertekad melampauinya. Kelembapan petang yang menggarami tubuh turut memotivasi mereka untuk menyudahi partai lebih dini. Di bawah awan mendung, mereka menemukan kembali secercah kepercayaan diri.

“Kami main dengan berani di tie break. Kami mulai menyerang. Kalo bisa nembak duluan, pasti kami ambil. Kami mikir poin per poin aja. Satu demi satu, eggak ngebebanin sama menang-kalah, itu belakangan,” tutur kedua petenis belia yang sama-sama mengidolai Aryna Sabalenka secara bersahut-sahutan.

Alhasil, cukup sekali match point. Winner, buah dari forehand menyilang ke sudut kiri lapang tak terjangkau lawan.

Kemenangan ini, sayangnya, tidak mengerek peringkat Mischka. Poinnya tidak dapat terhitung lagi. Di nomor ganda, setiap pemain junior hanya mendapat jatah lima penampilan terbaiknya. Lima penampilan terbaik siswa ACS Jakarta ini pun sudah bernilai juara di entry-level kejuaraan resmi internasional.

Menyadari hal tersebut, Mischka pun bertekad untuk mengayunkan raket di level yang lebih tinggi. Mengingat Indonesia belum menyelenggarakan turnamen di atas J60, pemain tim nasional akan mengepakkan sayapnya ke kawasan Asia Tenggara. Tentu saja, latihannya akan lebih giat dan lebih tekun lagi.

“Sejauh ini aku baru sekali (main di kelas atas). Pas itu main di level J200 Kuala Lumpur, Malaysia. Aku udah bagus bisa menembus babak kualifikasi meskipun mesti mengakui lawanku di first round. Lawanku (Kimiko Copper) betul-betul intens permainannya. Pas melihat pertandingan lain, pemain-pemain dengan peringkat tinggi, pukulannya juga jauh lebih kuat, bagus, dan rapih,” pungkas Mischka, yang hanya mengikuti seri pertama gelaran yang konsisten diselenggarakan oleh klub DETEC ini.

Bukan, bukan karena Mischka merasa melampaui level J30. Akan tetapi, sebagai student athlete, ada agenda sekolahnya yang tidak boleh ditinggalkan. Pencapaian akademik baginya sepenting prestasi di lapangan.

Hal ini pun membuka peluang lebar bagi keinginan Shinar. Belia 17 tahun bertekad meraih trofi tunggal ITF perdana. Apalagi, peringkatnya, ke-927 dunia, menempatkannya sebagai unggulan teratas seri kedua. ***

wwwwww