Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
8 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
2
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Umum
10 jam yang lalu
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
3
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
Metropolitan
18 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
4
Gibran Tak Penuhi Syarat Wapres Usai Putusan MA, Bola Panas Kini di Tangan Prabowo
Umum
12 jam yang lalu
Gibran Tak Penuhi Syarat Wapres Usai Putusan MA, Bola Panas Kini di Tangan Prabowo
5
KPK Geledah PT Djarum Kudus, Dugaan Manipulasi Cukai Belasan Tahun Rugikan Negara Triliunan
Hukum
13 jam yang lalu
KPK Geledah PT Djarum Kudus, Dugaan Manipulasi Cukai Belasan Tahun Rugikan Negara Triliunan
6
DPRD DKI Dorong Ancol Tingkatkan Daya Saing Lewat Inovasi Wisata
Metropolitan
10 jam yang lalu
DPRD DKI Dorong Ancol Tingkatkan Daya Saing Lewat Inovasi Wisata
Home  /  Berita  /  Voli

Riau Duduk di Harta Karun Laut, Tapi Tak Pernah Menyelaminya

Riau Duduk di Harta Karun Laut, Tapi Tak Pernah Menyelaminya
Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa.
Rabu, 04 Juni 2025 09:31 WIB

PEKANBARU – Potensi laut yang melimpah di Provinsi Riau dinilai belum tergarap maksimal. Padahal, Riau memiliki garis pantai panjang, wilayah pesisir yang luas, dan berada di jalur strategis Selat Malaka—modal besar untuk membangun kekuatan ekonomi maritim yang tangguh.

"Riau jangan hanya dikenal karena garis pantainya. Laut adalah peluang besar yang belum disentuh secara serius," ujar Marcellus Hakeng Jayawibawa, pengamat maritim dari Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas Strategic Center (ISC), Selasa (4/6/2025).

Ia menyoroti pentingnya menghidupkan kembali Visi Riau 2020, gagasan besar dari Gubernur Riau 1998–2003, Saleh Djasit. Menurut Hakeng, visi itu bukan hanya progresif, tapi juga mendahului zamannya karena menjadikan laut sebagai pusat distribusi dan konektivitas ekonomi.

Visi Riau 2020 kala itu memosisikan Selat Lalang sebagai simpul logistik utama melalui konsep Integrated Maritime Economy. Pelabuhan, kawasan industri, dan jalur distribusi dirancang dalam satu sistem logistik laut yang terintegrasi.

“Wilayah seperti Dumai, Bengkalis, Siak, Pelalawan, hingga Indragiri Hulu dirancang sebagai simpul-simpul ekonomi maritim. Ini rencana besar yang disusun secara teknokratis, bukan asal-asalan,” jelasnya.

Hakeng mengungkapkan, Saleh Djasit bahkan menggandeng konsultan asing dan perusahaan besar seperti Caltex Pacific Indonesia (CPI), dengan investasi studi kelayakan mencapai lebih dari satu juta dolar AS.

Namun, proyek ambisius itu tidak berlanjut. Lemahnya kelembagaan dan tidak adanya kesinambungan kebijakan membuat rencana tersebut mati suri setelah masa jabatan Saleh Djasit berakhir.

"Ini contoh klasik lemahnya institutional memory. Jika kebijakan bergantung pada figur, bukan sistem, maka akan mudah dilupakan," urainya.

Kini, menurut Hakeng, harapan muncul kembali melalui kepemimpinan Gubernur Riau terpilih, Abdul Wahid, MSi. Ia menyebut, ini momentum untuk membangun kembali gagasan maritim Riau dalam bentuk yang lebih konkret: Riau Maritime Corridor.

Konsep tersebut mencakup pengembangan ekonomi biru (blue economy), pelabuhan ramah lingkungan (green port), dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

“Dengan pemimpin muda yang punya visi, saya optimistis Riau bisa keluar dari bayang-bayang pantai dan menjadi pusat logistik maritim,” katanya.

Hakeng menekankan pentingnya pembangunan pelabuhan strategis seperti Dumai, Tanjung Buton, RAPP Futong, dan Kuala Enok agar terintegrasi dalam satu ekosistem logistik laut.

Ia menyebut, pendekatan Port Connectivity and Integrated Maritime Development wajib diterapkan agar pembangunan berjalan efisien, berkelanjutan, dan mendongkrak daya saing regional.

“Jika dikelola dengan benar, Riau bisa bersaing dengan kawasan industri maritim di Malaysia dan Singapura,” tambahnya.

Ia juga menyoroti perlunya dukungan regulasi, perencanaan spasial berbasis kajian kelautan, serta kolaborasi antara pemerintah daerah, pusat, sektor swasta, dan akademisi.

“Ini bukan sekadar mengenang visi lama, tapi soal masa depan. Laut adalah peluang. Tinggal ada tidaknya kemauan politik dan komitmen kolektif untuk benar-benar mewujudkannya,” tutupnya. ***

Editor:Muhammad Rafdinal Adrianto
Sumber:jpnn.com
Kategori:Voli, Metropolitan, Ekonomi, DKI Jakarta, Riau
wwwwww