Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
Hukum
19 jam yang lalu
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
2
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
18 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
3
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
Badminton
11 jam yang lalu
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
4
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
Olympic
12 jam yang lalu
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
5
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
Olympic
12 jam yang lalu
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
6
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Umum
17 jam yang lalu
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Home  /  Berita  /  DKI Jakarta

Gelombang PHK di Media TV, Kementerian Komdigi Siapkan Strategi Terbaik

Gelombang PHK di Media TV, Kementerian Komdigi Siapkan Strategi Terbaik
Dirjen Dirjen KPM, Fifi Aleyda Yahya. (Ist)
Rabu, 18 Juni 2025 15:08 WIB
Penulis: Azhari Nasution

JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), menanggapi nasib perusahaan media yang harus mengurangi tenaga kerjanya. Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (Dirjen KPM) Fifi Aleyda Yahya menyebut hal ini terjadi pergeseran fungsi dan peran wartawan yang tergantikan adanya platform media sosial.

"Tantangan dan transformasi besar yang dihadapi industri media, termasuk media pers. Sekarang tuh luar biasa. Banyak sekali platform, platform sosial media itu menjadi salah satu tempat mencari informasi. Nah jadi tidak bisa lagi strateginya sama dengan 5 atau 10 tahun sebelumnya,” kata Fifi kepada wartawab di kantornya, pekan lalu.

Ia menekankan bahwa masa depan media menjadi perhatian serius pemerintah. Nasib para wartawan yang menjadi korban PHK akan menjadi perhatian Komdigi.

"Bagaimana caranya agar media kita ini bisa tetap eksis, bisa tetap menyampaikan pesan informasi dengan baik dan juga keluarga mereka atau para jurnalis ini juga tetap bisa menjalankan profesinya,” ujarnya.

Fungsi wartawan seolah telah telah tergantikan oleh jurnalis warga atau jurnalist citizen dengan istilah warganet atau netijen. Banyak wartawan harus melepas atributnya sebagai penegak pilar ke empat demokrasi.

"Kenapa penting fungsi jurnalis maupun industri media, insan media, karena ini untuk menegakkan demokrasi," jelas eks wartawan Metro TV itu.

Fifi menyebut industri media mengalami 'tsunami informasi' yang membuat publik kesulitan membedakan fakta dan fiksi. Soal perubahan bisnis media dan PHK banyak grup media sudah melakukan langkah-langkah antisipasi.

"Karena rata-rata untuk grup-grup itu biasanya mereka sudah mempersiapkan dari yang tadinya hanya televisi kemudian bertransformasi punya platform digital dan juga platform lainnya," katanya.

Ia juga menyinggung perlunya mempersiapkan talenta jurnalis yang relevan dengan kebutuhan era digital saat ini. Banyak wartawan yang kini beranjak menjadi konten kreator dan youtuber.

Grup-grup (media) seperti yang besar-besar itu karyawan itu bisa sampai ribuan. Bahkan untuk TV berita itu minim begitu ya. Nah ini memang model bisnisnya sudah tidak bisa ke situ lagi kecuali langsung memang transformasi untuk heavy digital," Fifi mengungkapkan.

Diketahui terjadi gelombang PHK di sejumlah perusahaan media besar Tanah Air hal tersebut dikarenakan masyarakat tak lagi melirik media sebagai ladang informasi. Fungsinya tergantikan oleh peran media sosial.

Akibatnya banyak wartawan korban PHK harus banting setir di sektor lain, ada juga dari mereka berpindah dari media mainstream ke media ekstrim. Parahnya, muncul slogan liar 'Akan Bodrek Pada Waktunya'. ***

wwwwww