Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
Hukum
7 jam yang lalu
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
2
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
Metropolitan
13 jam yang lalu
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
3
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
6 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
4
Aturan Baru Mabes Polri Berlaku, Personel Resmi Dilarang Isap Vape
Nasional
9 jam yang lalu
Aturan Baru Mabes Polri Berlaku, Personel Resmi Dilarang Isap Vape
5
Kapolri Jenderal Suyudi Ancam Pidana Anggota Polri dan BNN yang Isap Vape Narkotika
Umum
5 jam yang lalu
Kapolri Jenderal Suyudi Ancam Pidana Anggota Polri dan BNN yang Isap Vape Narkotika
6
Jet Pribadi Jatuh di Palm Beach, Kecelakaan Maut Tewaskan Sembilan Penumpang
Internasional
6 jam yang lalu
Jet Pribadi Jatuh di Palm Beach, Kecelakaan Maut Tewaskan Sembilan Penumpang
Home  /  Berita  /  Voli

Sri Mulyani Sebut PMI Global 49,6, Terendah Sejak Desember 2024

Sri Mulyani Sebut PMI Global 49,6, Terendah Sejak Desember 2024
Menteri Keuangan Sri Mulyani/Tangkapan layar
Rabu, 18 Juni 2025 17:00 WIB
JAKARTA – Tekanan terhadap sektor manufaktur global semakin menguat hingga menyentuh titik terendah dalam enam bulan terakhir. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengungkapkan bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur dunia saat ini berada di angka 49,6, level terendah sejak Desember 2024.

"Sektor manufaktur mengalami tekanan. Kita lihat di sini 49,6 indeks dari PMI manufaktur global. Ini berarti secara global kegiatan sektor manufaktur cenderung dalam zona kontraktif, dan angka ini adalah angka terendah sejak Desember 2024," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Rabu (18/6/2025).

Ia menyebutkan bahwa lebih dari 70 persen negara yang disurvei mengalami kontraksi sektor manufaktur, termasuk Indonesia.

"Artinya, PMI mereka berada di bawah angka 50, termasuk Indonesia yang saat ini di level 47,4," tambahnya.

Sementara itu, hanya 29,2 persen negara yang masih mencatat ekspansi, seperti India dan Amerika Serikat. Menurutnya, tekanan ini berasal dari berbagai ketidakpastian global yang terus menumpuk, mulai dari konflik geopolitik hingga kebijakan fiskal agresif dari negara-negara maju.

"Ini adalah dampak dari kondisi keamanan geopolitik yang makin rapuh dan rentan, yang menyebabkan implikasi terhadap kegiatan ekonomi, ekspor-impor manufaktur, serta aliran modal yang berdampak global," urainya.

Ia menegaskan bahwa dunia kini menghadapi tekanan ganda yang menyulitkan prospek ekonomi.

"Ini sebabkan dua ketidakpastian. Pertama harga naik seperti harga minyak naik, tapi *demand* akan melemah. Tekanan harga inflasi naik, namun ketidakpastian menyebabkan ekonomi global melemah. Ini tidak baik dan harus diantisipasi," tandasnya. ***

wwwwww