Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
10 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
16 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
9 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
9 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
5
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
9 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
6
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
DKI Jakarta
10 jam yang lalu
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
Home  /  Berita  /  Voli

Ancaman Penutupan Hormuz: Pasokan Minyak RI Terancam, Subsidi BBM Membengkak

Ancaman Penutupan Hormuz: Pasokan Minyak RI Terancam, Subsidi BBM Membengkak
Selat Hormuz
Senin, 23 Juni 2025 16:42 WIB
Penulis: Idrus Yamin

PEKANBARU – Rencana penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai dampak eskalasi konflik dengan Israel dapat mengancam pasokan minyak mentah ke Indonesia dan berpotensi menyebabkan harga BBM domestik naik tajam.

Menurut Ekonom Universitas Riau, Dahlan Tampubolon, Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilewati antara 20–30% pasokan minyak global. “Jika ditutup oleh Iran, pasokan ke Indonesia bisa terganggu. Kita tidak lagi surplus minyak, tapi menjadi importir,” ujarnya, Senin (23/6/2025).

Dahlan memperingatkan bahwa gangguan pasokan akan membuat stok BBM menipis dan harga minyak global melambung. Penanganan alternatif rute via Oman dan India belum pasti dapat menampung volume besar, selain menimbulkan biaya operasional dan logistik yang lebih mahal.

Ia menjelaskan, produksi minyak RI baru mencapai 577.000 barel per hari per Februari 2025—jauh di bawah kebutuhan dalam negeri. Jika selat utama ditutup, Indonesia akan semakin tergantung pada impor.

Dengan harga minyak dunia yang meroket, beban subsidi BBM diperkirakan akan membengkak dan merenggut cadangan fiskal negara. “Subsidi harus segera dihitung ulang agar defisit tidak melebar,” sebut Dahlan.

Dampak lebih lanjut yaitu inflasi berbasis biaya produksi yang ikut terdorong, menyebabkan harga komoditas naik serta menekan daya beli masyarakat. Kebijakan proaktif dari pemerintah dan Bank Indonesia dianggap sangat penting untuk menahan lonjakan harga. ***

wwwwww