Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
15 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
2
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
9 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
8 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
8 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
5
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
8 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
6
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
DKI Jakarta
9 jam yang lalu
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
Home  /  Berita  /  Voli

Perempuan Diincar Jaringan Narkoba, BNN: Modus Baru, Ancaman Nyata

Perempuan Diincar Jaringan Narkoba, BNN: Modus Baru, Ancaman Nyata
Kepala BNN RI, Komjen Marthinus Hukom. (foto: ipol)
Senin, 23 Juni 2025 18:48 WIB

JAKARTA – Sindikat narkoba kini tak lagi hanya menyasar kalangan muda atau pria dewasa. Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkapkan, jaringan terorganisir mulai merekrut perempuan, termasuk ibu rumah tangga, sebagai kurir narkotika.

Kepala BNN, Martinus Hukom, menegaskan bahwa tren ini terlihat dari peningkatan jumlah tersangka perempuan selama April–Juni 2025. “Perkembangan modus operandi jaringan sindikat narkoba yang memperdaya kalangan perempuan atau ibu-ibu Indonesia harus menjadi perhatian,” ujarnya saat konferensi pers di Kantor Direktorat Jenderal Bea Cukai, Senin (23/6/2025).

Dalam periode tersebut, tercatat 285 tersangka kasus narkotika ditangkap. Sebanyak 256 di antaranya laki-laki, sementara 29 adalah perempuan. Artinya, sekitar 20 persen tersangka berasal dari kalangan perempuan.

Menurut Martinus, sindikat menilai perempuan lebih aman digunakan sebagai kurir karena minim kecurigaan. Namun peran mereka kini tak lagi sebatas pengantar. “Perempuan mulai berperan sebagai perekrut, pengendali distribusi, bahkan pengelola keuangan,” jelasnya.

Lebih memprihatinkan, ditemukan satu kasus di mana tersangka perempuan menyembunyikan narkotika dalam organ intim demi menghindari deteksi aparat.

Martinus menyebut, sindikat memanfaatkan kondisi fisik perempuan dan nilai-nilai feminisme sebagai celah untuk menyamarkan kegiatan ilegal. “Biasanya mereka ditawari upah yang menggiurkan,” ungkapnya.

Ia mengajak masyarakat untuk lebih waspada dan menjaga kaum perempuan dari jeratan sindikat narkoba. “Bangsa yang kuat lahir dari perempuan yang baik. Jika mereka yang dirusak, maka negara juga akan rapuh,” tambahnya. ***

wwwwww