Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
14 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
8 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
20 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
13 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
12 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
6
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
9 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Home  /  Berita  /  Automotif

Rekan Indonesia Dukung Wamenaker Skema Paylater Biaya Kuliah Kedokteran

Rekan Indonesia Dukung Wamenaker Skema Paylater Biaya Kuliah Kedokteran
Ketua Umum Relawan Kesehatan Indonesia, Agung Nugroho. (Ist)
Minggu, 27 Juli 2025 15:11 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA- Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia menegaskan dukungan penuh terhadap usulan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) RI, Immanuel Ebenezer mengenai skema pembiayaan pendidikan kedokteran dan farmasi yang dibayar setelah lulus.

Ketua Umum Rekan Indonesia, Agung Nugroho menilai, kebijakan ini menjadi angin segar bagi calon tenaga medis yang memiliki kemampuan akademik, tetapi terhambat biaya.

 
"Biaya kuliah kedokteran saat ini bisa mencapai Rp 600 juta sampai Rp 1 miliar hingga lulus profesi. Tanpa solusi pembiayaan yang adil, banyak generasi muda akan terhambat. Kita siap melawan mafia kesehatan dan regulasi yang memonopoli akses pendidikan," kata Agung, melalui keterangan tertulis, Minggu (27/7/2025). 
 
Selain mendukung skema utang kuliah, Agung menyebut, Rekan Indonesia juga mendorong pemerintah memperluas beasiswa LPDP, KIP-Kuliah, dan Bidikmisi. 
 
"Skema lain yang bisa diterapkan adalah adalah subsidi UKT pro-rata, CSR rumah sakit atau BUMN farmasi, hingga model income-share agreement (ISA) di mana pembayaran biaya kuliah berbasis persentase pendapatan setelah bekerja," tegasnya.
 
Menurutnya, desain kebijakan harus transparan, berbunga rendah, serta berpihak kepada masyarakat. 
 
"Anak bangsa berhak mendapat pendidikan bermutu tanpa terbebani biaya yang menjerat," pungkas Agung. ***

wwwwww