Tragedi Pasca Persalinan: Ibu Kehilangan Jari Setelah Prosedur Medis di Jakarta
![]() |
JAKARTA – Kisah tragis menimpa Hera Puji Astuti (24), yang berharap proses persalinan di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, Jakarta Timur, berjalan lancar, namun berakhir dengan kehilangan yang tak terduga. Setelah melahirkan bayinya, Hera terpaksa mengalami amputasi pada jari tangan kirinya karena pembusukan yang diduga akibat kelalaian medis.
Hera datang ke rumah sakit pada Senin, 5 Mei 2025, untuk melahirkan. Namun, pasca persalinan, kondisi tubuhnya mulai memburuk secara cepat. Tangan kiri Hera, yang sebelumnya sehat, mulai menghitam, dan diduga pembusukan tersebut terjadi akibat emboli pada pembuluh darah yang tidak segera ditangani dengan tepat.
"Proses persalinan berjalan lancar, tetapi setelahnya kondisi tubuhnya malah memburuk. Pembusukan di tangan kiri mengarah pada amputasi yang tidak bisa dihindari," jelas Kemas Mohammad, kuasa hukum keluarga Hera, pada Jumat (8/8/2025).
Dampak Emosional dan Psikologis
Keluarga Hera sangat terpukul, terutama setelah mengetahui bahwa seorang ibu muda yang baru saja melahirkan harus merasakan kehilangan besar seperti ini. Bukan hanya fisik yang harus dihadapi, tetapi dampak emosional dan psikologis yang begitu dalam, mengingat kehilangan jari sebagai akibat dari proses medis yang seharusnya menyelamatkan dan menjaga kesehatannya.
"Momen kelahiran seharusnya menjadi kebahagiaan, namun kini kami harus berjuang menghadapi kenyataan pahit. Kami merasa keluarga kami telah dirugikan tidak hanya secara fisik, tapi juga secara emosional," kata Kemas, yang mewakili keluarga Hera.
Tuntutan Keluarga terhadap Rumah Sakit
Keluarga Hera kini tengah berupaya mengumpulkan bukti medis dan rekam jejak perawatan untuk melanjutkan proses hukum. Mereka juga telah melaporkan kasus ini kepada Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Kemenkes, dan Lembaga Perlindungan Konsumen.
"Kami meminta penjelasan medis yang jelas dan transparansi dari rumah sakit mengenai kejadian ini. Kami juga ingin ada audit medis terhadap tenaga medis yang menangani pasien, agar kejadian serupa tidak terulang," ujar Kemas.
Keluarga Hera juga menginginkan kompensasi yang sesuai atas kerugian fisik dan psikis yang telah mereka alami, serta memastikan bahwa rumah sakit memperbaiki sistem pengawasan dan prosedur medis untuk menjaga keselamatan pasien.
Kurangnya Perlindungan Pasien di Rumah Sakit
Kasus ini mengingatkan kita semua akan pentingnya perlindungan pasien dan pengawasan yang ketat terhadap prosedur medis, terutama pada pasien yang baru melahirkan. Keluarga merasa sistem perlindungan yang ada saat ini masih sangat lemah, dan kejadian ini adalah contoh nyata dari buruknya pengawasan terhadap pelayanan kesehatan.
"Kasus ini sangat menyakitkan, bukan hanya bagi keluarga, tapi juga bagi semua pihak yang peduli terhadap keselamatan pasien. Kami berharap ada perubahan nyata dalam cara rumah sakit menangani pasien," tambah Kemas.
Hera dan keluarganya kini berharap agar kasus ini dapat menjadi pembelajaran untuk meningkatkan kualitas dan keselamatan pelayanan medis di seluruh rumah sakit di Indonesia. Semua pihak berharap agar kejadian serupa tidak menimpa pasien lainnya di masa depan.
Hingga berita ini dimuat, Liputan6.com masih berusaha menghubungi pihak Rumah Sakit Islam Pondok Kopi untuk memberikan penjelasan terkait insiden ini. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | liputan6.com |
| Kategori | : | Automotif, Beladiri, DKI Jakarta |













