Masyarakat Kecil Terjebak Sistem Pajak Tak Adil, Pihak Pemerintah Diminta Segera Bertindak
![]() |
| Dirjen Pajak Bimo Wijayanto berjabat tangan dengan pejabat lama, Suryo Utomo di Kementerian Keuangan, Jakarta (foto: inilah.com) |
JAKARTA – Dua kasus tagihan pajak yang tidak wajar baru-baru ini mengundang perhatian luas publik dan menjadi sorotan utama bagi masyarakat yang merasa dirugikan. Ismanto, seorang buruh jahit lepas dari Pekalongan, dan Antono, seorang pengusaha bahan bangunan dari Bojonegoro, keduanya menerima tagihan pajak dengan jumlah fantastis yang sangat jauh di luar kemampuan mereka untuk membayar.
Ismanto yang tinggal di Desa Coprayan, Pekalongan, Jawa Tengah, tak percaya ketika mendapat tagihan pajak sebesar Rp3,2 miliar. Dengan penghasilan hanya dari jahitan yang mungkin tak lebih dari beberapa juta per bulan, angka tersebut jelas tak masuk akal. "Saya kaget. Saya hanya buruh jahit lepas. Bagaimana mungkin tagihan pajak saya sampai sebesar itu?" ujarnya, terkejut.
Tak kalah mengejutkan, Antono, seorang pengusaha kecil di Bojonegoro, Jawa Timur, juga menghadapi tagihan pajak yang sangat tinggi hingga mencapai Rp10,4 miliar. Meski pihak pajak menawarkan cara 'pemutihan' dengan membayar Rp600 juta, Antono yang tak mampu memenuhi jumlah tersebut memilih untuk menolak dan akhirnya mengungkapkan ketidakadilan yang ia alami melalui media sosial.
Teguran Keras Terhadap Sistem Perpajakan yang Tidak Adil
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia (IWPI), Rinto Setiyawan, mengkritik keras sistem perpajakan yang dinilai carut-marut dan tidak berpihak pada masyarakat kecil. Menurutnya, kasus Ismanto dan Antono hanyalah sebagian kecil dari banyak kasus serupa yang tidak dipublikasikan, menunjukkan bahwa masih banyak oknum di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang berani bertindak tidak profesional.
“Pemeriksaan dan pemerataan pajak memang penting, tetapi angka tagihan yang tidak rasional ini adalah bukti adanya celah dalam pengawasan dan penegakan hukum yang lemah,” ujar Rinto, seraya menambahkan bahwa ini adalah masalah sistemik yang harus segera diselesaikan.
Ia juga mendesak Kementerian Keuangan dan DJP untuk melakukan investigasi terbuka dan transparan terhadap oknum yang terlibat dalam kasus-kasus ini, agar masyarakat mendapatkan kejelasan tentang siapa yang bertanggung jawab.
Kehilangan Harapan Masyarakat Kecil
Kisah Ismanto dan Antono mencerminkan betapa masyarakat kecil sering kali merasa terjebak dalam sistem yang tidak memihak mereka. Bagi banyak orang, pajak seharusnya menjadi kewajiban yang mendukung pembangunan negara, tetapi dalam praktiknya, banyak yang merasa tertekan dengan angka tagihan yang tidak sesuai dengan kenyataan hidup mereka.
“Sebagai rakyat kecil, kami hanya bisa berharap kepada pemimpin yang peduli dan mendengarkan keluhan kami. Jika harapan ini tidak terpenuhi, kami akan mencari pemimpin yang benar-benar berpihak kepada rakyat,” tegas Antono, yang kini merasa kehilangan kepercayaan terhadap sistem pajak yang ada.
Solusi dan Harapan untuk Perbaikan
Puan Maharani, Ketua DPR RI, turut menyoroti masalah ini dan mendesak pemerintah untuk segera memperbaiki ketimpangan dalam sistem perpajakan. Menurut Puan, insiden seperti ini harus menjadi peringatan bagi seluruh pihak terkait untuk lebih serius dalam melakukan pembenahan sistem yang lebih adil dan transparan.
"Kita tidak bisa membiarkan rakyat kecil terus-menerus menjadi korban dari sistem yang cacat. Negara harus hadir dengan memastikan bahwa sistem perpajakan dan infrastruktur yang ada bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat," tegas Puan.
Puan juga mengingatkan bahwa DJP dan Kemenkeu harus bekerja lebih keras untuk memastikan bahwa tagihan pajak yang diterbitkan masuk akal dan sesuai dengan kapasitas masyarakat yang dikenai pajak. Masyarakat juga berhak mendapatkan pelayanan yang adil tanpa adanya intervensi atau manipulasi dari oknum yang tidak bertanggung jawab.
Perlu Reformasi Sistem Pajak yang Lebih Adil
Masyarakat berharap pemerintah dapat melakukan reformasi sistem perpajakan yang lebih adil, dengan penegakan hukum yang lebih ketat terhadap oknum yang terlibat dalam manipulasi data pajak. Rinto Setiyawan mengingatkan bahwa pemerintah harus menyadari bahwa pajak yang tinggi bagi masyarakat kecil dapat merusak kepercayaan mereka terhadap sistem yang ada.
“Pajak bukan hanya soal kewajiban, tetapi juga soal rasa keadilan. Kita harus memastikan bahwa rakyat kecil tidak terus terjebak dalam sistem yang tidak adil,” ujar Rinto.
Ke depan, sangat penting bagi pemerintah untuk memastikan bahwa program-program perpajakan dapat memberikan manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa memberatkan mereka yang berada di lapisan bawah. Negara harus hadir dalam cara yang nyata, bukan sekadar melalui angka atau laporan statistik yang kosong.
Dengan adanya perhatian yang lebih besar dari pemerintah, kasus serupa bisa diminimalisir dan rakyat dapat merasa lebih dihargai dalam sistem perpajakan Indonesia yang lebih transparan dan akuntabel. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Voli, KONI, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur |













