Tragedi Mancing di Tanjung Emas: Ombak Telan Nyawa, Tiga Orang Belum Ditemukan
![]() |
| Para petugas gabungan melakukan evakuasi terhadap para korban tenggelam yang sudah ditemukan di Tambak Lorok, Kelurahan Tanjung Mas, Semarang Utara, Kota Semarang. |
SEMARANG – Aktivitas memancing yang semula menjadi hiburan justru berubah menjadi tragedi. Dua orang dinyatakan tewas dan tiga lainnya masih hilang setelah perahu mereka diterjang gelombang tinggi di kawasan Menara Merah, pintu masuk Pelabuhan Tanjung Emas, Selasa (19/8).
Peristiwa memilukan ini dipicu cuaca buruk berupa angin kencang dan ombak besar yang tiba-tiba datang saat para pemancing tengah berada di laut.
“Dua korban sudah ditemukan dalam keadaan meninggal, sementara tiga lainnya masih dalam pencarian,” ujar Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto.
Salah satu korban yang berhasil diidentifikasi bernama Bagus. Sementara satu jenazah lainnya belum diketahui identitasnya. Tujuh pemancing berhasil diselamatkan, yakni Sigit (45), Hartono (46), Andi (45), Klowor (45), Sugeng (50), Pak To, dan Mbahe.
Endro menjelaskan bahwa para pemancing tersebut sebenarnya tidak saling mengenal. Mereka bertemu di lokasi memancing dan sepakat menyewa satu perahu milik warga Tambak Lorok untuk memancing bersama.
Tragedi terjadi sekitar pukul 10.30 WIB saat cuaca mendadak memburuk. Pemilik perahu sempat mencoba menjemput, namun hanya mampu mengevakuasi tujuh orang.
Pencarian korban baru bisa dilakukan mulai pukul 14.00 WIB karena sebelumnya gelombang laut sangat berbahaya. Dua jam berselang, dua jenazah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
“Total ada 12 orang di perahu. Tujuh selamat, dua meninggal, tiga masih hilang,” jelas Endro.
Hingga Selasa malam, pencarian terpaksa dihentikan sementara akibat kondisi laut yang belum membaik. Tim gabungan dari BPBD Kota Semarang, Polair, Posal Tambak Lorok, SAR Semarang, dan Polsek setempat akan melanjutkan pencarian begitu cuaca memungkinkan.
“Demi keselamatan tim, pencarian ditunda sementara. Kami akan lanjutkan begitu kondisi laut memungkinkan,” tegas Endro.
Peristiwa memilukan ini dipicu cuaca buruk berupa angin kencang dan ombak besar yang tiba-tiba datang saat para pemancing tengah berada di laut.
“Dua korban sudah ditemukan dalam keadaan meninggal, sementara tiga lainnya masih dalam pencarian,” ujar Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto.
Salah satu korban yang berhasil diidentifikasi bernama Bagus. Sementara satu jenazah lainnya belum diketahui identitasnya. Tujuh pemancing berhasil diselamatkan, yakni Sigit (45), Hartono (46), Andi (45), Klowor (45), Sugeng (50), Pak To, dan Mbahe.
Endro menjelaskan bahwa para pemancing tersebut sebenarnya tidak saling mengenal. Mereka bertemu di lokasi memancing dan sepakat menyewa satu perahu milik warga Tambak Lorok untuk memancing bersama.
Tragedi terjadi sekitar pukul 10.30 WIB saat cuaca mendadak memburuk. Pemilik perahu sempat mencoba menjemput, namun hanya mampu mengevakuasi tujuh orang.
Pencarian korban baru bisa dilakukan mulai pukul 14.00 WIB karena sebelumnya gelombang laut sangat berbahaya. Dua jam berselang, dua jenazah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
“Total ada 12 orang di perahu. Tujuh selamat, dua meninggal, tiga masih hilang,” jelas Endro.
Hingga Selasa malam, pencarian terpaksa dihentikan sementara akibat kondisi laut yang belum membaik. Tim gabungan dari BPBD Kota Semarang, Polair, Posal Tambak Lorok, SAR Semarang, dan Polsek setempat akan melanjutkan pencarian begitu cuaca memungkinkan.
“Demi keselamatan tim, pencarian ditunda sementara. Kami akan lanjutkan begitu kondisi laut memungkinkan,” tegas Endro.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | tribunnews.com |
| Kategori | : | Olympic, DKI Jakarta, Jawa Tengah |













