Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
14 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
14 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
14 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
14 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
5
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
15 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
6
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
24 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Home  /  Berita  /  PON

Tragedi Raya di Sukabumi, Ketika Kemiskinan dan Lalainya Perawatan Merenggut Nyawa Bocah

Tragedi Raya di Sukabumi, Ketika Kemiskinan dan Lalainya Perawatan Merenggut Nyawa Bocah
Wamensos Agus Jabo Priyono Ajak Masyarakat Bangun Cara Pandang Positif untuk Penyandang Disabilitas, Jakarta (3/12/2024). (Foto: liputan6.com/ade nasihudin).
Rabu, 20 Agustus 2025 17:30 WIB

JAKARTA – Tragedi kematian Raya, bocah berusia tiga tahun asal Desa Cianaga, Sukabumi, mengguncang publik. Tubuh mungilnya dipenuhi infeksi cacing gelang, hingga akhirnya tak tertolong. Kasus ini menyingkap betapa rapuhnya perlindungan negara terhadap keluarga miskin di pelosok daerah.

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, menyampaikan duka mendalam sekaligus keprihatinan. Ia menegaskan bahwa Kementerian Sosial telah mengirim tim ke lokasi untuk melakukan pendampingan. 

“Saat ini tim kita sudah berada di sana, sudah ditangani tim Dinsos juga,” kata Agus Jabo, Rabu (20/8/2025).

Kondisi orangtua Raya pun memprihatinkan. Sang ayah menderita TBC, sementara ibunya diduga mengalami gangguan mental. Mereka kini dibawa ke Bandung untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.

“Kalau hasil tes menunjukkan ibunya benar mengalami gangguan kesehatan mental, tentu akan ada penanganan yang diberikan,” jelasnya.

Agus Jabo menambahkan, Raya ternyata memiliki kakak berusia 7 tahun. Kondisi sang kakak masih dalam pemeriksaan, dan bila diperlukan akan mendapat intervensi kesehatan maupun perlindungan sosial.

Di tingkat desa, Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi, mengungkap realitas pahit keluarga tersebut. Raya kerap bermain di kolong rumah panggung bersama ayam, dengan perkembangan motorik yang lambat.

“Sudah sempat dibawa ke klinik, ternyata ada penyakit paru. Dari desa kami sudah beri makanan tambahan dan bantuan dana kesehatan,” ujar Wardi.

Namun, ketika kondisi memburuk, keluarga tidak segera membawanya ke rumah sakit. “Mungkin mereka tidak menyangka kondisinya separah itu,” tambahnya. 

Raya akhirnya meninggal di tengah kesulitan keluarga yang kompleks: kemiskinan, penyakit, dan keterbatasan akses kesehatan. Kasus ini bukan hanya soal satu anak, melainkan cermin betapa masih banyak anak miskin yang hidup tanpa jaminan kesehatan memadai.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:liputan6.com
Kategori:PON, Olympic
wwwwww