Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
19 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
Olympic
13 jam yang lalu
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
3
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
Sepakbola
13 jam yang lalu
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
4
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
13 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
5
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
14 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
6
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
19 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Tak Seperti PAN, Golkar, dan NasDem, PDIP Pilih Diam soal Kader Kontroversial

Tak Seperti PAN, Golkar, dan NasDem, PDIP Pilih Diam soal Kader Kontroversial
Deddy Sitorus dan Sadarestuwati.
Senin, 01 September 2025 15:57 WIB

JAKARTA – Kritik terhadap PDIP semakin tajam setelah partai berlambang banteng moncong putih itu belum juga mengambil langkah tegas terhadap dua kadernya, Deddy Sitorus dan Sadarestuwati. Padahal, ucapan dan tindakan keduanya dinilai melukai perasaan rakyat.

Direktur Riset Trust Indonesia, Ahmad Fadhli, menilai Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri lebih memilih bersikap aman dibandingkan mengikuti jejak PAN, Golkar, dan NasDem yang sudah mencopot kader kontroversialnya.

“Megawati tidak berani mencopot karena takut merembet ke Puan Maharani. Padahal, Puan sebagai Ketua DPR juga bertanggung jawab atas lemahnya penyerapan aspirasi rakyat dan absennya pertemuan dengan demonstran,” kata Fadhli, Senin (1/9/2025).

Menurutnya, keputusan PDIP untuk tidak mencopot Deddy dan Sadarestuwati menunjukkan partai ini lebih mengutamakan kalkulasi politik dibandingkan menjaga kepercayaan publik. “PDIP selalu mengklaim dekat dengan wong cilik, tapi kenyataannya justru memilih bermain safety,” tegasnya.

Deddy menuai kritik keras setelah dalam sebuah debat televisi menyebut perbandingan gaji DPR dan pekerja UMR sebagai “sesat logika”, serta melabeli masyarakat kecil dengan istilah “rakyat jelata”. Sementara Sadarestuwati dianggap tidak sensitif setelah berjoget heboh usai Sidang Tahunan MPR, saat rakyat tengah terhimpit kesulitan ekonomi.

Sementara itu, partai-partai lain sudah lebih dulu mengambil langkah tegas. PAN mencopot Eko Patrio dan Uya Kuya, NasDem menonaktifkan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach, dan Golkar memberhentikan Adies Kadir dari keanggotaan DPR.

Fadhli juga menyoroti posisi Megawati yang berdiri di samping Presiden Prabowo saat konferensi pers di Istana. Menurutnya, momen itu menunjukkan PDIP tetap mencari keuntungan politik di tengah situasi panas. “Mereka ingin memastikan posisi sebagai partai penyeimbang tetap terlindungi,” ujarnya. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Metropolitan, DKI Jakarta
wwwwww