Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
11 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
2
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
13 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
3
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
19 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
4
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
7 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
5
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
9 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
6
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
6 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Home  /  Berita  /  Non Olympic

Timnas Indonesia Masih Berjuang, STy Dipecat Ulsan: Dua Dunia yang Berbeda

Timnas Indonesia Masih Berjuang, STy Dipecat Ulsan: Dua Dunia yang Berbeda
Shin Tae-yong. (Dok. PSSI)
Kamis, 09 Oktober 2025 21:45 WIB
Penulis: Azhari Nasution

JAKARTA - Saat Timnas Indonesia masih berjuang di babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, satu nama yang dulu dielu-elukan justru terpuruk di tanah kelahirannya. Shin Tae-yong (STY) kini menjadi sorotan usai dipecat Ulsan FC pada Kamis (9/10/2025).

Menurut media Korea, pemecatan STY tak hanya disebabkan kalah telak 0-3 dari Gimcheon Sangmu pada Minggu (5/10) yang merupakan kekalahan ke-13 musim ini bagi sang juara bertahan K League 1. STY dibuang Ulsan FC karena gagal membina komunikasi yang baik dengan pemain. Masalah komunikasi itu juga pernah terjadi saat STY melatih Timnas sehingga ia dipecat. Ulsan terjerembab di posisi ke-10 klasemen—tiga terbawah. Ironis? Lebih dari itu. Ini adalah tamparan keras bagi mereka yang masih percaya pada "daya magic STY".

Di Indonesia, STY pernah dielu-elukan sebagai penyelamat sepak bola nasional. Tapi kini, di Korea Selatan, ia tak mampu bersaing di liga domestik. Kompetisi yang seharusnya jadi ladang pembuktian, justru memperlihatkan bahwa STY bukan lagi pelatih yang ditakuti.

Pemecatan ini menjadi pertanda STY hanya mampu bersinar di panggung yang lebih kecil. Bahwa ketika tekanan dan ekspektasi di tanah sendiri meningkat, ia justru kehilangan arah.

Sudah waktunya publik Indonesia berhenti memuja masa lalu. STY bukan lagi juru selamat. Ia kini hanya pelatih yang gagal bersaing di liga sendiri. ***

wwwwww