Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
15 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
2
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
9 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
8 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
8 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
5
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
7 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
6
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
DKI Jakarta
8 jam yang lalu
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
Home  /  Berita  /  Non Olympic

Terkait Kekalahan Timnas Indonesia, Frits: AFC Sarang Mafia Sepakbola

Terkait Kekalahan Timnas Indonesia, Frits: AFC Sarang Mafia Sepakbola
Timnas Indonesia. (PSSI)
Minggu, 12 Oktober 2025 18:53 WIB
Penulis: Azhari Nasution

JEDDAH — Kekalahan Timnas Indonesia dari Irak dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026 bukan sekadar soal skor. Bagi pengamat sepakbola senior, Fritzs Simandjuntak, laga di Stadion King Abdullah Sports City, Arab Saudi, Sabtu (11/10/2025), adalah potret kelam sepakbola Asia yang dikendalikan oleh tangan-tangan kotor.

“Sudah saatnya kita buka mata. AFC bukan lagi federasi, tapi sarang mafia sepakbola. Wasit-wasitnya bukan pengadil, tapi operator pesanan dari kekuasaan Timur Tengah,” tegas Fritzs di Jakarta, Minggu (12/10/2025).

Target kritik utama Fritzs adalah wasit asal Cina, Ma Ning, yang memimpin laga Indonesia vs Irak. Keputusan-keputusannya dinilai absurd, penuh kejanggalan, dan merugikan Timnas Garuda.

Fritz merinci, di menit injury time, Zaid Tahseen menyikut Kevin Diks di kotak penalti. Kartu merah diberikan ke Tahseen, tapi penalti? Tidak. Ma Ning justru menyalahkan Diks karena dianggap memancing emosi lawan.

Sebelumnya, Tahseen juga lolos dari kartu merah saat melanggar Ole Romeny sebagai pemain terakhir. VAR? Tidak digunakan. Hanya kartu kuning.

Bahkan, protes keras dari manajer Timnas, Sumardji, berujung kartu merah. Tapi pertanyaan besarnya: kenapa VAR tak pernah menyala sepanjang laga yang penuh tensi?

 Fritzs menduga Ma Ning bertugas dengan “kompensasi khusus”. “Wasit ini tidak independen. Dia bertugas dengan agenda. Bahkan salah seorang tokoh wasit FIFA asal Jepang menyebut Ma Ning sudah menerima perintah sebelum laga dimulai. Tidak ada VAR digunakan dalam laga seketat itu? Itu bukan kelalaian, itu sabotase,” tegasnya.

Track record Ma Ning pun bukan tanpa noda. Di final Piala Asia 2023, ia memberi tiga penalti untuk Qatar saat melawan Yordania. Hasilnya? Qatar juara. “Itu bukan kebetulan. Itu pola,” kata Fritzs.

 Lebih jauh, Fritzs menyebut AFC telah menjadi alat kekuasaan Timur Tengah. “Wasit bisa disuap, diarahkan, dan dikendalikan. Ini bukan sekadar merusak pertandingan, tapi menghancurkan masa depan sepakbola Asia. Kita makin tertinggal dari Eropa, Amerika Latin, bahkan Afrika.”**

wwwwww