Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
23 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
17 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
21 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
4
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
18 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
5
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
22 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
6
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
17 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Home  /  Berita  /  Automotif

Ibu Hamil Ditandu 7 Kilometer di Maros, Potret Buram Akses Kesehatan Pedesaan

Ibu Hamil Ditandu 7 Kilometer di Maros, Potret Buram Akses Kesehatan Pedesaan
Rabu, 15 Oktober 2025 05:59 WIB

MAROS – Sebuah video yang viral di media sosial menggambarkan realitas getir akses kesehatan di pedalaman Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Seorang ibu hamil bernama Nina, warga Dusun Cindakko, Desa Bonto Somba, harus ditandu sejauh tujuh kilometer melintasi jalan rusak dan berlumpur demi bisa melahirkan di fasilitas kesehatan.

Tanpa kendaraan yang bisa lewat, warga bergotong royong menandu Nina menggunakan bambu dan kain seadanya. Perjalanan panjang itu ditempuh selama berjam-jam menyusuri jalan terjal yang belum tersentuh perbaikan selama puluhan tahun.

“Kalau ada warga sakit atau mau melahirkan, kami cuma bisa bawa pakai tandu. Tidak ada jalan lain karena kendaraan tidak bisa masuk,” ungkap Kepala Desa Bonto Somba saat dikonfirmasi, Selasa (14/10/2025).

Sesampainya di Puskesmas Tompobulu, perjuangan Nina berbuah haru. Ia berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki dalam kondisi sehat. Namun, dua hari kemudian, ia harus melalui perjalanan yang sama untuk kembali pulang ke desanya.

Kisah ini memantik perhatian publik setelah videonya menyebar luas di platform media sosial. Banyak warganet menyampaikan keprihatinan sekaligus kritik terhadap kondisi infrastruktur dan akses layanan kesehatan di wilayah terpencil.

Bagi warga Cindakko, kejadian seperti ini bukan hal baru. Mereka telah lama berharap adanya perhatian pemerintah agar jalan penghubung ke desa diperbaiki. “Sudah bertahun-tahun kami begini. Kalau musim hujan, jalan makin parah. Kami hanya bisa berharap ada perbaikan,” ujar seorang warga yang ikut menandu Nina.

Kisah Nina menjadi simbol perjuangan warga di daerah terpencil, yang masih harus bertaruh nyawa hanya untuk mendapatkan hak dasar kesehatan. Di tengah gencarnya pembangunan nasional, cerita dari pedalaman Maros ini menjadi pengingat bahwa akses dasar bagi masyarakat terpencil masih jauh dari layak. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:metrotvnews.com
Kategori:Automotif, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan
wwwwww