Andi Arief Ingatkan Pemerintah, Jangan Tutupi Dugaan Korupsi di Proyek Kereta Cepat
![]() |
“Kereta cepat sudah jadi kenyataan. Dari Jakarta ke Bandung kini bisa ditempuh dalam waktu singkat. Tapi, kecurigaan adanya korupsi atau mark up jangan diabaikan jika memang ada,” tulis Andi melalui akun X miliknya, Selasa (28/10/2025).
Menurutnya, keberadaan Whoosh memang membawa kebanggaan nasional, tetapi keberhasilan proyek besar tidak boleh menutupi kewajiban pemerintah untuk membuka data dan menjelaskan setiap penggunaan anggaran secara transparan. “Pembangunan harus jalan terus, tapi pengawasan publik dan lembaga audit tidak boleh berhenti,” ujarnya.
Andi Arief menekankan bahwa proyek infrastruktur besar seperti kereta cepat selalu berisiko menjadi ladang penyimpangan anggaran. Karena itu, lembaga pengawas seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan aparat penegak hukum perlu memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar sesuai peruntukannya. “Jangan sampai proyek strategis ini menjadi simbol kemajuan yang ternoda oleh korupsi,” katanya.
Pernyataan Andi Arief muncul di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap dugaan pembengkakan biaya proyek Whoosh. Perbandingan antara biaya pembangunan per kilometer di Indonesia dan Tiongkok yang disebut jauh berbeda memicu berbagai pertanyaan soal efisiensi dan kejujuran pengelolaan dana.
Menurut Andi, proyek transportasi publik seperti Whoosh bukan sekadar urusan teknis, tetapi juga soal integritas kebijakan dan akuntabilitas pemerintah. “Pemerintah perlu menjaga kepercayaan publik. Jangan sampai proyek besar yang seharusnya membanggakan justru menimbulkan kecurigaan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap pembangunan nasional bergantung pada keterbukaan informasi dan sikap antikorupsi. “Kalau pemerintah terbuka dan berani diaudit, publik akan tetap mendukung. Tapi kalau ada kesan menutup-nutupi, proyek sehebat apa pun bisa kehilangan maknanya,” tegasnya.
Andi menegaskan, keberhasilan Whoosh tidak akan berarti jika di baliknya ada praktik penyimpangan yang merugikan negara. Ia pun mendorong agar lembaga penegak hukum bertindak tegas jika ada bukti kuat tentang dugaan korupsi. “Kita semua ingin kemajuan, tapi kemajuan yang bersih, bukan kemajuan yang mahal karena dikorupsi,” katanya.
Proyek kereta cepat Jakarta–Bandung menjadi proyek transportasi pertama di Asia Tenggara yang menggunakan teknologi tinggi. Meski menuai pujian, proyek ini juga diselimuti kritik terkait pembengkakan biaya dan transparansi pendanaan. Pernyataan Andi Arief menjadi pengingat bahwa pembangunan tanpa pengawasan hanya akan melahirkan prestasi semu.
“Pemerintah harus buktikan bahwa proyek ini benar-benar bersih, transparan, dan memberi manfaat besar bagi rakyat. Itulah bentuk kemajuan yang sebenarnya,” tutup Andi. ***













