Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
14 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
8 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
20 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
13 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
12 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
6
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
9 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Home  /  Berita  /  PON

Amazon Pecat 30 Ribu Pegawai, AI Jadi Pengganti Baru di Era Otomasi

Amazon Pecat 30 Ribu Pegawai, AI Jadi Pengganti Baru di Era Otomasi
Ilustrasi logo Amazon. (foto: shutterstock)
Rabu, 29 Oktober 2025 08:36 WIB
JAKARTA – Raksasa teknologi dunia, Amazon, kembali mengguncang industri global dengan kebijakan efisiensi paling drastis dalam sejarahnya. Sekitar 30 ribu karyawan akan kehilangan pekerjaan karena peran mereka digantikan oleh sistem kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI) yang kini mengambil alih sebagian besar tugas administratif dan operasional perusahaan.

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) ini dimulai Selasa (28/10/2025) dan mencakup hampir 10 persen dari total tenaga kerja korporat Amazon yang berjumlah 350 ribu orang. Langkah ini bahkan lebih besar dibanding pemangkasan 27 ribu karyawan pada 2022.

Menurut laporan Investing, PHK kali ini bukan sekadar strategi penghematan biaya, melainkan bagian dari perubahan struktur kerja besar-besaran di bawah kepemimpinan CEO Andy Jassy. “Kami tengah memasuki era efisiensi baru yang digerakkan oleh AI,” kata Jassy dalam memo internal kepada staf.

Jassy menyebutkan, restrukturisasi dilakukan untuk menyederhanakan birokrasi dan mengurangi jumlah manajer yang berlapis-lapis. Divisi yang terdampak meliputi sumber daya manusia (PXT), perangkat dan layanan, operasi, serta unit andalan Amazon Web Services (AWS). “Kami ingin organisasi yang lebih lincah, efisien, dan inovatif,” tambahnya.

Amazon juga telah memberikan pelatihan khusus kepada para manajer agar dapat menyampaikan kabar PHK dengan cara yang “empatik tapi tegas.” Meski begitu, suasana internal dilaporkan penuh ketegangan karena banyak pegawai yang tidak menyangka AI akan secepat ini menggantikan posisi mereka.

Dalam wawancara pada Juni lalu, Jassy sebenarnya sudah memberikan sinyal. Ia mengatakan bahwa peningkatan penggunaan kecerdasan buatan dapat menggantikan pekerjaan yang bersifat berulang. “Kami ingin memastikan setiap jam kerja di Amazon menghasilkan nilai yang maksimal. AI memungkinkan kami melakukannya,” ujarnya kala itu.

Analis eMarketer, Sky Canaves, menilai keputusan Amazon mencerminkan tren baru di industri global. “Amazon kini berada di fase di mana otomatisasi sudah mencapai tingkat efisiensi yang signifikan. Mereka mulai memetik hasil investasi besar-besaran dalam pengembangan AI internal,” kata Canaves.

Menurutnya, langkah Amazon tidak semata soal penghematan, tapi juga strategi mempertahankan posisi di tengah persaingan ketat melawan Microsoft, Google, dan Meta yang juga mempercepat investasi AI mereka. “Amazon tidak mau sekadar jadi pengguna AI, tapi ingin menjadi pemain utama yang mendefinisikan arah industri,” tegasnya.

Untuk mempercepat efisiensi, Jassy bahkan meluncurkan sistem pengaduan anonim di internal perusahaan, agar pegawai bisa melaporkan proses kerja yang dianggap tidak efektif. Hasilnya mencengangkan: lebih dari 1.500 tanggapan masuk dan menghasilkan 450 perbaikan sistem operasional di seluruh divisi.

Namun, tidak semua pihak menyambut langkah ini dengan optimisme. Serikat pekerja teknologi di Amerika Serikat menilai keputusan Amazon berisiko menciptakan ketimpangan sosial baru. “Kita sedang melihat awal dari era di mana manusia mulai tergeser oleh algoritma. Tapi siapa yang akan melindungi mereka yang tersisih?” ujar juru bicara Tech Workers Alliance.

Pengamat ketenagakerjaan di New York menilai PHK besar-besaran ini sebagai “peringatan keras” bagi industri teknologi global. “AI bukan lagi alat bantu—ia mulai menjadi pengganti. Perusahaan besar akan lebih fokus pada efisiensi ketimbang kesejahteraan manusia,” katanya.

Meskipun demikian, langkah Amazon justru disambut positif oleh pasar modal. Saham perusahaan naik hampir 3 persen sehari setelah kabar PHK tersebar. Investor menilai, pemangkasan tenaga kerja bisa menghemat miliaran dolar per tahun dan memperkuat kinerja jangka pendek.

Bagi sebagian analis, keputusan ini menandai titik balik sejarah bisnis modern. Amazon bukan sekadar perusahaan e-commerce atau teknologi lagi, tetapi pionir transformasi industri menuju otomatisasi total. “Apa yang dilakukan Amazon hari ini akan ditiru perusahaan besar lain tahun depan. Dunia kerja sedang berubah, dan manusia harus belajar beradaptasi dengan mesin,” ujar Canaves.

Dengan langkah ini, Amazon menegaskan arah barunya: efisiensi, kecepatan, dan integrasi penuh dengan AI. Namun di balik ambisi besar itu, satu pertanyaan menggantung di benak banyak orang: sampai kapan manusia tetap menjadi bagian penting dalam perusahaan raksasa seperti Amazon? ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:Inilah.com
Kategori:PON, Olympic, Ekonomi
wwwwww