Gen Z Jakarta Paling Peduli Iklim tapi Masih Salah Pahami Krisis yang Sebenarnya
![]() |
| (antara foto/indrianto eko suwarso) |
“Padahal dampak krisis iklim jauh lebih kompleks—menyentuh kesehatan fisik dan mental, ketahanan pangan, hingga kerusakan infrastruktur akibat bencana,” ujar Campaign & Communication Staff Climate Rangers, Febriani Nainggolan, dalam diskusi Nexus Tiga Krisis Planet bertajuk “Gen Z Menagih Tanggung Jawab Iklim” di Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Febri menjelaskan, generasi yang lahir pada 2020 akan menghadapi realitas yang jauh lebih berat. “Mereka akan mengalami gelombang panas tujuh kali lebih sering, kekeringan tiga kali lebih lama, dan banjir besar dua kali lebih intens dibanding generasi kita,” katanya.
Namun, meski anak muda menjadi kelompok yang paling terdampak, mereka merasa masih kurang dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Sebanyak 62,4 persen responden menilai pemerintah hanya melibatkan generasi muda secara simbolis. “Anak muda sering hanya dijadikan pajangan dalam forum, bukan diajak berpikir dan berkontribusi. Padahal masa depan kami yang dipertaruhkan,” tegas Febri.
Pandangan senada disampaikan Co-Founder Kawula17, Dian Irawati, yang menilai kepedulian masyarakat terhadap isu lingkungan meningkat pesat dalam dua tahun terakhir. Berdasarkan survei terhadap 404 responden, dua isu yang paling disorot publik adalah pengelolaan sampah (33 persen) dan kerusakan lingkungan akibat tambang (32 persen).
“Tren kesadaran ini didorong oleh kasus-kasus perusakan alam yang ramai diperbincangkan, seperti #SaveRajaAmpat dan #SavePulauPadar. Media sosial menjadi ruang perlawanan baru bagi anak muda,” ujarnya.
Dian menyebut, partisipasi generasi muda kini tidak lagi sebatas penonton. Berdasarkan survei terhadap 1.342 responden muda, 42 persen sudah tergolong participant—naik dari tahun lalu—sementara 35 persen lainnya aktif dalam advokasi lingkungan dan sosial. “Ini menunjukkan pergeseran besar, dari pasif menjadi aktif. Mereka mulai turun ke lapangan, ikut kampanye, dan mengorganisir gerakan,” jelasnya.
Namun, ia menyoroti masih adanya pandangan yang menempatkan anak muda sebagai “beban” dalam isu iklim, bukan sebagai pihak yang perlu dilindungi dan diberdayakan. “Mereka yang akan hidup paling lama di bumi ini, tapi paling sedikit didengar. Pemerintah harus membuka ruang partisipasi yang bermakna, bukan formalitas,” kata Dian.
Febri menambahkan, dunia saat ini sudah hampir melewati ambang batas aman suhu global. “Perjanjian Paris menargetkan kenaikan suhu tidak lebih dari 1,5 derajat Celsius, tapi kini sudah 1,3 derajat. Dalam skenario terbaik pun bisa naik 1,9 derajat—itu sudah melewati batas aman,” katanya.
Ia menilai kebijakan iklim Indonesia masih belum cukup ambisius. Emisi gas rumah kaca masih meningkat, bahkan dengan dukungan sektor kehutanan. “Kita butuh komitmen nyata, bukan janji. Kalau pemerintah ingin disebut serius, hentikan solusi palsu dan dorong transisi energi yang berkeadilan,” tegasnya.
Melalui jaringan Climate Rangers di 32 provinsi, anak muda Indonesia menyusun serangkaian tuntutan kepada pemerintah dan komunitas global. Untuk dunia internasional, mereka menuntut keadilan finansial, kebijakan iklim ambisius, serta transisi energi yang adil bagi negara berkembang.
Sedangkan untuk pemerintah Indonesia, tuntutan mereka lebih spesifik: mempercepat kebijakan berkeadilan iklim, menghentikan eksploitasi alam, memperkuat pendanaan untuk solusi berbasis rakyat, dan memastikan kebijakan lingkungan berpihak pada keadilan sosial.
“Bumi bukan aset yang bisa dijual atau diabaikan. Kalau kami, generasi muda, harus hidup di planet yang rusak, itu artinya orang dewasa gagal melindungi kami,” ujar Febri.
Dian menambahkan, gerakan anak muda saat ini tidak lagi sekadar reaksi emosional, tapi menjadi kekuatan politik baru. “Gen Z membawa cara pandang berbeda: mereka tidak hanya menuntut perubahan, tapi mempraktikannya—dari gaya hidup, konsumsi, hingga cara mereka berpolitik,” katanya.
Bagi banyak anak muda Jakarta, isu iklim kini bukan sekadar “isu global”, tapi bagian dari keseharian mereka: udara yang makin panas, banjir yang makin sering, dan makanan yang makin mahal. Mereka tidak hanya ingin diajak bicara, tapi ingin ikut memutuskan. “Kami tidak mau menunggu. Kami ingin bertindak sekarang,” tutup Febri. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | republika.co.id |
| Kategori | : | PON, Olympic, Lingkungan |













