Komisi VIII Sentil Kemenag Soal Penampilan Kru Pesawat Haji, Dahnil Beri Penjelasan
![]() |
| Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Senin (27/10/2025). (Foto: Inilah.com/Diana). |
JAKARTA – Rapat kerja antara Komisi VIII DPR RI dan Kementerian Agama berlangsung panas setelah muncul kritik mengenai penampilan kru maskapai yang melayani penerbangan haji. Isu ini berawal dari laporan sejumlah anggota DPR yang menilai penampilan pramugari dengan rok tinggi di pesawat haji dianggap tidak sesuai dengan konteks perjalanan ibadah.
Ketua Komisi VIII, Marwan Dasopang, menjadi pihak pertama yang menyoroti hal tersebut. Ia menilai, sebagian kru maskapai yang disewa pemerintah tampil dengan pakaian yang kurang pantas di hadapan jemaah haji, yang sebagian besar berasal dari daerah dengan latar budaya religius kuat.
“Penampilannya kurang pas. Banyak jemaah dari kampung-kampung yang jadi risih. Ini akan kita bahas lebih lanjut,” ujarnya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, sempat memberikan penjelasan bahwa keterlibatan kru lokal Indonesia di maskapai asing memang terbatas. “Kru yang disyaratkan untuk maskapai asing seperti Saudia Airlines minimal tiga orang dari Indonesia. Kalau maskapai Indonesia, semuanya kru lokal,” katanya.
Namun, Dahnil sempat terkejut saat Marwan menegaskan bahwa insiden yang dimaksud bukan terjadi di maskapai asing, melainkan di pesawat milik maskapai lokal. “Pak Wamen, yang terjadi itu bukan pesawat Saudia, tapi pesawat kita sendiri,” tegas Marwan.
Menanggapi hal itu, Dahnil dengan santai menjawab, “Saya nggak pernah ketemu soalnya,” yang sontak memancing tawa ringan di ruang rapat.
Meski sempat diselingi humor, isu ini menyentuh hal yang lebih dalam: etika pelayanan dan sensitivitas budaya dalam penerbangan haji. Marwan menegaskan, persoalan utama bukan sekadar soal pakaian, melainkan soal kemampuan kru berkomunikasi dan memahami kebutuhan jemaah lanjut usia.
“Yang penting itu layanan dan komunikasi. Banyak jemaah yang sudah tua, mereka perlu kru yang bisa memahami bahasa dan kebutuhan mereka,” ujarnya.
Ia berharap ke depan pemerintah lebih mengutamakan penggunaan kru nasional yang terlatih secara kultural dan profesional agar pelayanan terhadap jemaah lebih ramah dan sesuai karakter penumpang Indonesia.
Persoalan ini membuka diskusi lebih luas tentang keseimbangan antara standar layanan maskapai internasional dan nilai-nilai religius jemaah haji. Dalam konteks perjalanan spiritual, pelayanan bukan hanya soal teknis penerbangan, tetapi juga soal rasa nyaman dan penghormatan terhadap nilai-nilai yang dipegang para calon tamu Allah. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Voli, Metropolitan, Beladiri, DKI Jakarta |













