Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
15 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
10 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
22 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
15 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
11 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
6
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
14 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Home  /  Berita  /  Olympic

Fenomena ‘Memetic Violence’, Densus 88 Ungkap Motif di Balik Ledakan SMAN 72

Fenomena ‘Memetic Violence’, Densus 88 Ungkap Motif di Balik Ledakan SMAN 72
Suasana masjid yang menjadi tempat ledakan di SMAN 72 Jakarta, Jakarta, Jumat (7/11/2025).
Rabu, 12 November 2025 05:30 WIB

JAKARTA – Ledakan di lingkungan SMAN 72 Jakarta yang sempat menghebohkan publik ternyata bukan bagian dari aksi terorisme. Hasil penyelidikan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap fakta lain: aksi itu merupakan bentuk kekerasan yang dipicu oleh pengaruh konten dunia maya atau disebut memetic violence daring.

PPID Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan, istilah tersebut menggambarkan kekerasan yang muncul karena individu meniru atau terinspirasi dari konten daring ekstrem, tanpa adanya koneksi langsung dengan jaringan teror.

“Sampai saat ini tidak ditemukan aktivitas terorisme yang dilakukan ABH (anak berhadapan dengan hukum). Ini murni tindakan kriminal umum. Dalam komunitas kekerasan, ada istilah memetic violence daring,” jelasnya di Polda Metro Jaya, Selasa (11/11/2025).

Lebih lanjut, Mayndra menyebut, analisis terhadap senjata airsoft gun milik pelaku menunjukkan adanya jejak peniruan dari berbagai ideologi global. Tulisan nama-nama tokoh dan simbol dari Eropa hingga Amerika ditemukan pada permukaan senjata mainan tersebut.

“Yang bersangkutan meniru berbagai hal yang ia lihat di internet. Ia merasa terinspirasi oleh ideologi dan tokoh-tokoh itu, tapi tidak memiliki hubungan langsung dengan kelompok tertentu,” ungkapnya.

Pihak Densus memastikan pelaku bertindak sendiri tanpa dukungan jaringan manapun. “Kejadian ini belum termasuk tindak pidana terorisme,” tegasnya.

Sementara itu, Dansat Brimob Polda Metro Jaya, Kombes Henik Maryanto, menguraikan temuan teknis di lapangan. Berdasarkan hasil analisis, bom dirakit dengan sistem kendali jarak jauh menggunakan receiver dan baterai berdaya 6 volt.

“Casing bom berupa jeriken plastik 1 liter dengan isi paku. Switching-nya menggunakan sistem remote, namun alat kendalinya tidak ditemukan di lokasi,” paparnya.

Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti tambahan di area taman baca dan bank sampah di sekitar sekolah. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa pelaku melakukan percobaan peledakan di beberapa titik.

Kasus ini membuka babak baru dalam pola kekerasan anak muda yang terpengaruh dunia maya. Fenomena memetic violence dinilai sebagai peringatan akan dampak serius paparan konten ekstrem terhadap psikologi remaja di ruang digital. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Olympic, Nasional, DKI Jakarta
wwwwww