Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
12 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
2
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
Kemenpora
22 jam yang lalu
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
3
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
6 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
5 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
6 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
6
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
5 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Home  /  Berita  /  Nasional

Produksi Migas Terus Turun, SKK Migas Minta Laba Hulu Dipakai Biayai Eksplorasi Baru

Produksi Migas Terus Turun, SKK Migas Minta Laba Hulu Dipakai Biayai Eksplorasi Baru
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto memberi keterangan kepada wartawan.
Rabu, 12 November 2025 19:27 WIB

JAKARTA – Di tengah menurunnya produksi minyak nasional dan minimnya penemuan ladang baru, SKK Migas mendorong kebijakan baru untuk menyelamatkan masa depan energi Indonesia. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengusulkan agar dana eksplorasi migas diambil dari keuntungan sektor hulu — bukan lagi bergantung pada pinjaman atau investasi swasta.

Usulan itu disampaikan Djoko dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VII DPR RI mengenai pembahasan RUU Migas, Rabu (12/11/2025). Ia menilai, eksplorasi migas selama ini berjalan lambat karena tak ada lembaga keuangan yang mau menanggung risikonya.

“Tidak ada satu pun bank dalam negeri yang mau membiayai eksplorasi. Risiko dianggap terlalu tinggi,” ujarnya.

Padahal, Djoko menegaskan, tingkat keberhasilan eksplorasi di Indonesia kini jauh lebih baik dibanding satu dekade lalu. “Kalau dulu dari sepuluh pengeboran hanya satu yang berhasil, sekarang bisa tiga yang menemukan cadangan baru. Artinya, peluang kita makin besar,” jelasnya.

Namun, peluang itu kerap terhenti karena keterbatasan modal. Saat ini, dana eksplorasi Indonesia hanya sekitar US$1 miliar per tahun — jauh dari cukup untuk membiayai survei dan pengeboran di lebih dari 60 cekungan hidrokarbon yang belum tergarap.

Djoko mencontohkan negara seperti Inggris dan Malaysia yang berhasil menumbuhkan industri migas mereka dengan model reinvestasi keuntungan. “Inggris menggunakan sebagian pendapatan hulunya untuk eksplorasi kembali dan berhasil menemukan ladang gas besar di Northeast. Malaysia juga sukses dengan pendekatan yang sama lewat Petronas,” ujarnya.

Ia menilai, pendekatan itu bisa menjadi solusi agar Indonesia tak terus terjebak pada ketergantungan impor minyak mentah dan bahan bakar. “Dulu kita pernah memproduksi 1,6 juta barel per hari, tapi sekarang tidak sampai setengahnya. Kalau eksplorasi tidak kita biayai sendiri, sulit mengejar ketertinggalan,” katanya. 

Selain itu, Djoko menegaskan pentingnya transformasi menuju energi bersih tanpa mengorbankan stabilitas pasokan. “Kita sudah berhasil mandiri di sektor solar lewat B30 dan B35. Tapi untuk bensin, masih perlu didorong lewat bioetanol, biofuel, dan kendaraan listrik,” ujarnya.

Ia berharap, usul SKK Migas masuk dalam pembahasan RUU Migas yang baru, agar Indonesia memiliki mekanisme pendanaan eksplorasi yang berkelanjutan. “Kalau sebagian keuntungan dari hulu kita alokasikan untuk eksplorasi, itu bukan biaya, tapi investasi untuk masa depan energi bangsa,” tegasnya.

Djoko menutup pernyataannya dengan nada optimistis. “Kita punya potensi besar. Tinggal bagaimana keberanian kita untuk membiayai penemuan energi baru dari hasil kerja keras kita sendiri,” ujarnya. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:tempo.co
Kategori:Nasional, Ekonomi, DKI Jakarta
wwwwww