Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
15 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
2
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
9 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
8 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
8 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
5
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
7 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
6
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
DKI Jakarta
8 jam yang lalu
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
Home  /  Berita  /  Voli

Tragis di Pino Raya: Aksi Protes Berujung Luka Tembak, Walhi Sebut Pemerintah Abai Sejak 2012

Tragis di Pino Raya: Aksi Protes Berujung Luka Tembak, Walhi Sebut Pemerintah Abai Sejak 2012
Senjata api yang diduga digunakan petugas keamanan perusahaan sawit untuk menembak petani di Pino Raya, Bengkulu Selatan, Bengkulu, 24 November 2025. (Dok. Walhi)
Selasa, 25 November 2025 15:00 WIB

JAKARTA – Bentrokan antara petani dan aparat keamanan perusahaan sawit di Kecamatan Pino Raya, Bengkulu Selatan, memuncak menjadi tragedi setelah lima petani dilaporkan mengalami luka tembak, Senin (24/11/2025). Peristiwa ini kembali menegaskan betapa rentannya warga di wilayah konflik agraria yang sudah berlangsung lebih dari satu dekade.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bengkulu menyebut penembakan itu diduga dilakukan petugas keamanan PT Agro Bengkulu Selatan (ABS). “Akibat penembakan tersebut, lima orang petani mengalami luka berat,” ungkap Direktur Eksekutif Walhi Bengkulu, Dodi Faisal.

Menurut Dodi, insiden ini terjadi setelah warga berkali-kali menghadapi teror. Ia menuturkan bahwa pondok petani hingga tanaman pangan sering dirusak, menambah ketegangan di tengah sengketa lahan yang belum terselesaikan. “Ini konflik lama yang tidak diselesaikan pemerintah daerah maupun Kementerian ATR/BPN sejak 2012,” jelasnya. 

Akar persoalan berawal dari terbitnya keputusan bupati Bengkulu Selatan yang memberikan izin lokasi kepada PT ABS seluas 2.950 hektare. Sejak itu, petani Pino Raya dan perusahaan terlibat dalam sengketa klaim lahan yang kian melebar.

Keributan terakhir dipicu protes petani terhadap penggunaan bulldozer perusahaan yang menggusur tanaman mereka pada pagi hari sekitar pukul 10.00 WIB. Ketegangan meningkat hingga siang hari, dan mendekati pukul 12.45 WIB, seorang petugas keamanan diduga melepaskan tembakan. 

Lima petani mengalami luka pada bagian tubuh berbeda: Linsurman tertembak di dengkul, Edi Hermanto di paha, Santo pada bagian rusuk bawah ketiak, Suhardin pada betis, sementara Buyung mengalami luka di dada.

Hingga saat ini, Tempo belum mendapatkan konfirmasi dari PT ABS maupun Bupati Bengkulu Selatan, Rifai Tajudin. Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid, juga belum menanggapi pertanyaan terkait insiden tersebut.

Kepolisian Resor Bengkulu Selatan menyatakan telah menerima laporan dan kini mengumpulkan keterangan untuk menyelidiki lebih jauh peristiwa berujung kekerasan itu. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:tempo.co
Kategori:Olympic, Voli, Metropolitan, Beladiri, DKI Jakarta, Bengkulu
wwwwww