Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
13 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
2
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
Kemenpora
23 jam yang lalu
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
3
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
7 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
6 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
7 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
6
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
6 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Home  /  Berita  /  Lingkungan

Anies Desak Perbaikan Tata Ruang dan Etika Lingkungan, Buntut Rangkaian Bencana Alam

Anies Desak Perbaikan Tata Ruang dan Etika Lingkungan, Buntut Rangkaian Bencana Alam
Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (Ist)
Jum'at, 28 November 2025 12:48 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyampaikan refleksi keras atas rentetan bencana yang menerpa Indonesia, mulai dari badai, banjir bandang, longsor, hingga erupsi gunung api dan terganggunya habitat satwa. Ia menilai fenomena tersebut sebagai alarm serius bagi manusia yang selama ini kerap mengabaikan etika dalam memperlakukan alam.

"Di saat seperti inilah kita perlu kembali menguatkan semangat saling bantu, warga jaga warga," tulisnya melalui akun X, Jumat (28/11/2025).

‎
‎Anies menilai kerusakan yang tampak di darat maupun laut merupakan konsekuensi ulah manusia, merujuk pada QS 30:41. Karena itu, rangkaian bencana belakangan ini tidak bisa lagi dipandang sebagai kejadian alam semata.
‎
‎"Badai, hujan lebat, gunung meletus, adalah peristiwa alam yang telah berlangsung jutaan tahun. Namun, kita memperparah dan mengubahnya menjadi bencana ketika kita memperlakukan alam tanpa etika. Tata ruang dilanggar, hutan ditebang habis, pesisir dicemari, habitat satwa dihancurkan," tegas Anies.
‎
‎Ia mendorong seluruh pihak melakukan tobat ekologis, sebuah pengakuan atas "dosa kolektif" terhadap bumi akibat lemahnya kebijakan, pengawasan yang longgar, dan keputusan jangka pendek yang hanya menguntungkan sebagian pihak.
‎
‎"Kita perlu mengakui bahwa kerusakan ini adalah hasil pilihan kolektif. Aturan dilanggar demi keuntungan jangka pendek yang hanya dinikmati sebagian orang," ujarnya.
‎
‎Anies menilai, masyarakat kini hidup berdampingan dengan risiko bencana karena perubahan iklim dan kerusakan bentang alam. Meski pencegahan total semakin sulit, ruang untuk mengurangi dampak masih terbuka.
‎
‎"Caranya, dengan tata kelola yang transparan, penegakan hukum yang tegas, gaya hidup yang lebih ramah bumi, keberanian berkata ‘tidak’ pada proyek yang merusak, serta mendidik dan membiasakan mitigasi bencana secara serius bagi seluruh masyarakat," ungkapnya.
‎
‎Anies menegaskan, bahwa keberlangsungan hidup manusia yang terancam, bukan planetnya.
‎
‎"Bumi akan terus berputar, dengan atau tanpa manusia. Yang terancam punah bukan planetnya, tapi keberlangsungan hidup kita sendiri. Maka kitalah yang butuh peduli pada bumi," jelasnya.
‎
‎Menutup pesannya, ia kembali mengangkat seruan tobat ekologis yang disebutnya sebagai upaya mengembalikan batas-batas serakah, batas abai, dan batas melanggar aturan.
‎
‎"Demi bumi yang lebih layak dihuni untuk anak dan cucu kita semua," pungkasnya. ***

Editor:Senopati Ukoro
Sumber:Rmol.id
Kategori:Nasional, Lingkungan
wwwwww