Sebelum Melangkah ke Negeri Orang, Pemerintah Ingatkan: “Jangan Biarkan Mimpi Kalian Dibajak”
![]() |
| Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar, mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak asal menerima tawaran pekerjaan ke luar negeri. (ilustrasi) |
JAKARTA – Tidak semua cerita tentang bekerja di luar negeri berakhir bahagia. Di balik kisah sukses yang sering dibagikan, ada ribuan kisah gelap yang tidak pernah terdengar—kisah tentang anak-anak bangsa yang terjebak iming-iming palsu, dijerat utang oleh perekrut ilegal, atau terdampar di negeri asing tanpa perlindungan. Kekhawatiran inilah yang membuat pemerintah kembali mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada tawaran pekerjaan yang bertebaran di internet.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, menyampaikan peringatan ini di sela lokakarya SMK Go Global di Bandung, Senin (1/12/2025). Dengan nada yang penuh penekanan, ia meminta masyarakat tidak gegabah menerima tawaran yang tampak menggiurkan.
“Jangan sampai terjebak iming-iming yang salah, pilihan-pilihan yang menjebak,” ujarnya.
Ia menegaskan banyak tawaran kerja luar negeri, terutama yang beredar di Facebook, Instagram, dan platform lain, datang dari pihak yang tidak memiliki izin resmi. Tawaran itu sering memanfaatkan harapan ekonomi masyarakat, padahal di baliknya tersimpan potensi eksploitasi.
“Gunakan semua informasi yang formal,” katanya.
Sementara itu, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, mengungkapkan fakta mencengangkan: delapan dari sepuluh masalah pekerja migran justru terjadi sebelum keberangkatan.
“Masalah terbesar ada pada tahap rekrutmen,” ujarnya.
Ia menegaskan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) tidak boleh kecolongan. Tidak boleh ada proses seleksi abal-abal, tidak boleh ada oknum yang meloloskan calon pekerja tanpa memenuhi syarat. Sebab, kelalaian sekecil apa pun di tahap awal bisa mengantar warga ke situasi berbahaya.
Mengikuti arahan Presiden Prabowo, Mukhtarudin menegaskan pelindungan harus diberikan dari hulu hingga hilir: sebelum berangkat, selama bekerja, hingga kembali ke tanah air. Calon pekerja migran kini memperoleh pelatihan vokasi, edukasi keuangan, literasi hukum, hingga jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan sebelum resmi berangkat.
“Negara hadir untuk memastikan mereka tidak berjalan sendirian,” katanya.
Pemerintah berharap tidak ada lagi cerita anak bangsa yang ditipu dengan janji gaji tinggi, lalu harus bekerja tanpa istirahat, tanpa kontrak jelas, atau tanpa tempat tinggal layak. Tidak ada lagi yang ditinggalkan agen, kehilangan paspor, atau pulang hanya membawa luka.
Bekerja di luar negeri adalah harapan—bagi diri sendiri, untuk keluarga, dan masa depan. Namun harapan itu hanya dapat menjadi kenyataan bila setiap langkah diambil dengan hati-hati dan melalui jalur yang resmi. ***













