Peringatan Eks Bos BMKG Terbukti: Banjir Besar Sumut Sudah Diantisipasi namun Tak Terbendung
![]() |
| Banjir di Tapanuli Selatan. (foto: antara/yudi manar) |
JAKARTA – Fakta baru terungkap di balik banjir bandang dahsyat yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara. Mantan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengungkap bahwa dirinya bersama Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti, telah memberi peringatan dini kepada Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, mengenai potensi bencana berskala besar sejak Oktober 2025.
Saat itu, Dwikorita meninjau kawasan Tapanuli dan menyampaikan kewaspadaan terhadap ancaman banjir bandang yang diprediksi terjadi pada November.
"Kita belum membayangkan siklonnya akan segitu bandelnya… tapi fenomena alamnya sering terjadi banjir bandang dan koordinasi dengan pemerintah daerah itu sudah ada," ujarnya dalam diskusi Pojok Bulaksumur di UGM, Sleman, Kamis (4/12/2025).
Dwikorita menjelaskan bahwa peringatan tersebut ditindaklanjuti melalui pertemuan daring dengan Bobby Nasution. Pemerintah Provinsi Sumut disebut telah bersiap, namun skala bencana melampaui prediksi. Banjir dan longsor terjadi serentak di banyak daerah aliran sungai (DAS), membuat dampaknya lebih luas dan lebih cepat dari siklus 50 tahunan yang pernah ia teliti di Bahorok.
Ia menilai ada faktor non-alamiah yang memperburuk kondisi, yakni campur tangan manusia dalam bentuk perubahan tata lahan. Sebagai Guru Besar Geologi Lingkungan, ia menyebut aspek antropogenik itu mengganggu kesiapan mitigasi yang sudah disusun.
"(Faktor) antropogenik itu mengacaukan semua kesiapan. Kalau ekologinya tidak benar, kita selalu kalah dengan tantangan yang ada," tegasnya.
Peringatan Dwikorita tidak hanya ditujukan untuk Sumatera Utara. Ia meminta daerah-daerah dengan bentang alam serupa Pegunungan Bukit Barisan—termasuk Pulau Jawa, Sulawesi, Maluku, hingga Papua—untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Menurutnya, wilayah-wilayah tersebut berpotensi mengalami bencana serupa, terutama ketika terjadi akumulasi hujan ekstrem.
Dwikorita mengingatkan bahwa Desember 2025 sampai April 2026 merupakan periode tumbuhnya siklon di selatan ekuator. Meski hanya dari bibit siklon, intensitas hujannya disebut cukup untuk memicu longsor dan banjir bandang pada kawasan geologi rentan.
"Guyuran hujan dari bibit siklon saja sudah cukup memicu tanah longsor dan banjir bandang," ujarnya. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | cnnindonesia.com |
| Kategori | : | Olympic, Lingkungan, DKI Jakarta, Sumatera Utara |













