Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Taman Bendera Pusaka Raih Seoul Design Award, Komisaris PT ITJ: Legacy Pramono Anung Diakui Dunia
Metropolitan
16 jam yang lalu
Taman Bendera Pusaka Raih Seoul Design Award, Komisaris PT ITJ: Legacy Pramono Anung Diakui Dunia
2
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
Olympic
4 jam yang lalu
Michelle Ukir Sejarah, Renang Sumbang Medali Ketiga Indonesia
3
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
Sepakbola
3 jam yang lalu
Jelang Jeda Internasional, Persib Bidik Kemenangan Hadapi Java United FC
4
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
Sepakbola
3 jam yang lalu
Messidoro Puas Jadi Pemain Terbaik Usai Tumbangkan PSIM
5
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
Olympic
3 jam yang lalu
Aira Pertama Kali Rasakan Triathlon Kelas Dunia
6
Dijamu PSS, Bhayangkara FC Berharap Bisa Curi Gol Lebih Dulu
Sepakbola
3 jam yang lalu
Dijamu PSS, Bhayangkara FC Berharap Bisa Curi Gol Lebih Dulu
Home  /  Berita  /  Olympic

Galon Usia 13 Tahun Masih Dijual di Bogor, Ancaman Senyap bagi Kesehatan

Galon Usia 13 Tahun Masih Dijual di Bogor, Ancaman Senyap bagi Kesehatan
Ilustrasi. (foto: inilah.com)
Kamis, 18 Desember 2025 06:51 WIB

JAKARTA – Komunitas Konsumen Indonesia kembali membunyikan alarm bahaya terkait keamanan air minum dalam kemasan di wilayah Jabodetabek. Hasil investigasi lapangan terbaru menemukan galon guna ulang yang sudah berusia belasan tahun masih beredar bebas, termasuk di wilayah Bogor.

Ketua KKI, David Tobing, mengungkapkan timnya menemukan galon dengan kode produksi tahun 2012 yang masih dijual di Bogor. Artinya, galon tersebut telah berusia 13 tahun. Temuan serupa juga ditemukan di Tangerang, dengan galon produksi tahun 2016 yang masih digunakan.

“Ketika kami menemukan galon berumur 13 tahun, itu bukan lagi red flag, itu sirene bahaya. Galon-galon ini sudah masuk kategori galon lanjut usia. Ini soal keselamatan manusia, bukan sekadar kemasan,” ujar David di Jakarta, Kamis (12/12/2025).

Investigasi bertajuk Investigasi Ganula Air Minum di Jabodetabek tersebut menyasar 60 toko kelontong. Hasilnya menunjukkan kondisi yang dinilai mengkhawatirkan. Sebanyak 57 persen galon yang beredar diketahui berusia lebih dari dua tahun, padahal sejumlah pakar kesehatan menyarankan penggunaan galon plastik polikarbonat maksimal satu tahun untuk mencegah migrasi zat kimia berbahaya seperti BPA.

Selain usia, kondisi fisik galon juga menjadi sorotan. KKI mencatat sekitar 80 persen galon ditemukan dalam kondisi buram dan kusam, sementara lebih dari 55 persen tampak lusuh dan berdebu. Kondisi ini dinilai mencerminkan lemahnya pengawasan kualitas dan kebersihan dalam siklus penggunaan galon guna ulang.

“Fisik galon yang sudah buram, kusam, dan kotor menunjukkan tidak adanya kontrol kualitas yang ketat. Ini jelas mengabaikan aspek kesehatan publik,” jelasnya.

KKI juga menyoroti minimnya edukasi dari produsen kepada rantai distribusi. Berdasarkan data investigasi, sekitar 95 persen pedagang mengaku tidak pernah mendapatkan penjelasan tentang cara membaca kode produksi untuk mengetahui usia galon. Sebanyak 91,7 persen pedagang juga menyebut tidak pernah menerima informasi terkait standar keamanan bahan kemasan.

David menegaskan temuan ini merupakan kelanjutan dari investigasi tahun sebelumnya yang belum menunjukkan perbaikan berarti. Karena itu, KKI telah menyampaikan laporan resmi kepada Badan Perlindungan Konsumen Nasional.

KKI mendesak BPKN mengambil langkah tegas dengan memerintahkan produsen menarik galon yang berusia di atas dua tahun dari peredaran. “Bayangkan galon dalam kondisi kusam, lusuh, dan buram masih dijual bebas. Ini bukan kelalaian kecil, tapi ancaman langsung bagi kesehatan publik,” pungkasnya. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Olympic, Voli, Automotif, DKI Jakarta
wwwwww