Dari Jalan Nasional, Seruan Warga Aceh Menggema Lewat Bendera Putih
![]() |
| Sebuah bendera putih dikibarkan di sepanjang tepi jalan di daerah yang membutuhkan bantuan setelah banjir bandang di Aceh Tamiang, Sumatera Utara, pada 15 Desember 2025. (foto: afp/yasuyoshi chiba) |
BANDA ACEH – Di tengah puing banjir bandang dan tanah longsor, sehelai kain putih berkibar di pinggir jalan lintas nasional Banda Aceh–Medan. Bagi warga terdampak bencana, bendera itu bukan pesan politik, melainkan tanda darurat—permohonan tolong dari masyarakat yang kelelahan menghadapi situasi yang belum juga pulih.
Fenomena pengibaran bendera putih terlihat di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Aceh Utara. Warga setempat menyebut langkah itu sebagai cara terakhir agar penderitaan mereka terlihat dan segera mendapat perhatian.
“Kami sekarang menyerah dan tak sanggup lagi dan butuh bantuan,” ujar Bakhtiar, warga Perlak, Aceh Timur, Minggu (14/12/2025).
Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh sejak akhir November 2025 memutus akses jalan, menghambat distribusi logistik, serta memaksa ribuan orang bertahan di pengungsian dengan keterbatasan kebutuhan dasar. Memasuki pekan ketiga, sebagian wilayah masih terisolasi.
Menanggapi ramainya bendera putih, Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem mengaku belum menerima laporan resmi terkait maksud aksi tersebut. Ia menyatakan tidak mengetahui siapa pihak yang menginisiasi pengibaran bendera putih.
“Saya tidak terkopi itu, apa maksud mereka? Yang itu di luar jangkauan kita,” kata Mualem usai menerima bantuan kemanusiaan di Kantor Gubernur Aceh, Selasa (16/12/2025).
Ia menegaskan, pengibaran bendera putih bukan kebijakan pemerintah daerah. “Siapa yang perintah itu, apa maksudnya itu?” katanya, seraya menekankan Aceh tetap berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di sisi lain, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memaknai bendera putih sebagai ekspresi kelelahan warga di tengah tekanan bencana. Ia menyampaikan keyakinan bahwa situasi masih dapat dihadapi bersama melalui kolaborasi pemerintah daerah dan pusat.
“Saya percaya Pak Gubernur masih cukup kuat,” ujar Gus Ipul saat menyerahkan bantuan kemanusiaan di Aceh, Selasa (16/12/2025).
Menurutnya, para kepala daerah telah bekerja keras siang dan malam. Ia mengajak semua pihak bergandeng tangan agar penanganan bencana berjalan lebih efektif. “Semestinya kita bisa atasi bersama-sama,” katanya.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat Aceh menjadi salah satu wilayah dengan dampak terparah. Hingga Rabu (17/12/2025), sebanyak 449 orang meninggal dunia dan 21 orang masih dinyatakan hilang. Secara keseluruhan, korban jiwa di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mencapai 1.059 orang, dengan 192 orang belum ditemukan.
Di tengah statistik yang mencekam itu, bendera putih yang berkibar di pinggir jalan menjadi penanda bisu kondisi warga. Bagi mereka, kain putih itu adalah isyarat darurat—bahwa bertahan sendirian bukan lagi pilihan. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | tribunnews.com |
| Kategori | : | Olympic, Voli, Metropolitan, DKI Jakarta, Aceh, Sumatera Utara |













