Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
Hukum
18 jam yang lalu
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
2
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
Umum
15 jam yang lalu
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
3
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
Umum
15 jam yang lalu
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
4
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
KONI
12 jam yang lalu
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
5
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
KOI
12 jam yang lalu
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
6
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Hukum
19 jam yang lalu
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Home  /  Berita  /  Olympic

Dari Jalan Nasional, Seruan Warga Aceh Menggema Lewat Bendera Putih

Dari Jalan Nasional, Seruan Warga Aceh Menggema Lewat Bendera Putih
Sebuah bendera putih dikibarkan di sepanjang tepi jalan di daerah yang membutuhkan bantuan setelah banjir bandang di Aceh Tamiang, Sumatera Utara, pada 15 Desember 2025. (foto: afp/yasuyoshi chiba)
Sabtu, 20 Desember 2025 11:11 WIB

BANDA ACEH – Di tengah puing banjir bandang dan tanah longsor, sehelai kain putih berkibar di pinggir jalan lintas nasional Banda Aceh–Medan. Bagi warga terdampak bencana, bendera itu bukan pesan politik, melainkan tanda darurat—permohonan tolong dari masyarakat yang kelelahan menghadapi situasi yang belum juga pulih.

Fenomena pengibaran bendera putih terlihat di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Aceh Utara. Warga setempat menyebut langkah itu sebagai cara terakhir agar penderitaan mereka terlihat dan segera mendapat perhatian.

“Kami sekarang menyerah dan tak sanggup lagi dan butuh bantuan,” ujar Bakhtiar, warga Perlak, Aceh Timur, Minggu (14/12/2025).

Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh sejak akhir November 2025 memutus akses jalan, menghambat distribusi logistik, serta memaksa ribuan orang bertahan di pengungsian dengan keterbatasan kebutuhan dasar. Memasuki pekan ketiga, sebagian wilayah masih terisolasi.

Menanggapi ramainya bendera putih, Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem mengaku belum menerima laporan resmi terkait maksud aksi tersebut. Ia menyatakan tidak mengetahui siapa pihak yang menginisiasi pengibaran bendera putih.

“Saya tidak terkopi itu, apa maksud mereka? Yang itu di luar jangkauan kita,” kata Mualem usai menerima bantuan kemanusiaan di Kantor Gubernur Aceh, Selasa (16/12/2025).

Ia menegaskan, pengibaran bendera putih bukan kebijakan pemerintah daerah. “Siapa yang perintah itu, apa maksudnya itu?” katanya, seraya menekankan Aceh tetap berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di sisi lain, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memaknai bendera putih sebagai ekspresi kelelahan warga di tengah tekanan bencana. Ia menyampaikan keyakinan bahwa situasi masih dapat dihadapi bersama melalui kolaborasi pemerintah daerah dan pusat.

“Saya percaya Pak Gubernur masih cukup kuat,” ujar Gus Ipul saat menyerahkan bantuan kemanusiaan di Aceh, Selasa (16/12/2025).

Menurutnya, para kepala daerah telah bekerja keras siang dan malam. Ia mengajak semua pihak bergandeng tangan agar penanganan bencana berjalan lebih efektif. “Semestinya kita bisa atasi bersama-sama,” katanya.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat Aceh menjadi salah satu wilayah dengan dampak terparah. Hingga Rabu (17/12/2025), sebanyak 449 orang meninggal dunia dan 21 orang masih dinyatakan hilang. Secara keseluruhan, korban jiwa di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mencapai 1.059 orang, dengan 192 orang belum ditemukan.

Di tengah statistik yang mencekam itu, bendera putih yang berkibar di pinggir jalan menjadi penanda bisu kondisi warga. Bagi mereka, kain putih itu adalah isyarat darurat—bahwa bertahan sendirian bukan lagi pilihan. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:tribunnews.com
Kategori:Olympic, Voli, Metropolitan, DKI Jakarta, Aceh, Sumatera Utara
wwwwww