Pemerhati Jakarta: Perayaan Tahun Baru 2026 di Jakarta Cerminkan Empati dan Kepemimpinan Beradab
![]() |
| Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung dan Ketua KATAR, Sugiyanto (SGY). (Ist) |
Kamis, 01 Januari 2026 12:34 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR), Sugiyanto (SGY), mengapresiasi kebijakan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang memilih perayaan Tahun Baru 2026 secara sederhana dan sarat nilai kemanusiaan di tengah bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra.
SGY menilai, keputusan meniadakan pesta kembang api dan menggantinya dengan doa bersama serta penggalangan donasi menunjukkan empati dan kepekaan seorang pemimpin terhadap penderitaan sesama anak bangsa.
"Perasaan saya bahagia, haru, sekaligus bangga. Di saat saudara-saudara kita di Sumatra sedang tertimpa musibah, Jakarta justru memilih menahan euforia dan mengedepankan empati, doa, serta solidaritas nyata," kata SGY dalam keterangan tertulis, Kamis (1/1/2026).
Menurutnya, kebijakan Gubernur Pramono tidak bersifat simbolik semata, tetapi memiliki dampak nyata karena mengajak masyarakat Jakarta terlibat langsung dalam aksi kemanusiaan melalui donasi dan kepedulian sosial.
SGY menyoroti, antusiasme warga Jakarta yang secara sadar merayakan malam pergantian tahun dengan sederhana dan berpartisipasi aktif dalam penggalangan bantuan bagi korban banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
"Kebijakan ini mencerminkan kepemimpinan yang berorientasi pada nilai kemanusiaan dan solidaritas sosial. Kebanggaan ini bukan hanya saya rasakan pribadi, tetapi juga dirasakan oleh mayoritas warga Jakarta," ujarnya.
Dalam perayaan malam Tahun Baru 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berhasil menghimpun donasi masyarakat sebesar Rp3,1 miliar yang akan disalurkan melalui kerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
Selain itu, sebanyak 10 persen pendapatan Ancol sebagai BUMD DKI Jakarta turut disumbangkan untuk bantuan kemanusiaan.
Rangkaian acara pergantian tahun juga diawali doa bersama lintas agama yang melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta penyesuaian sejumlah hiburan sebagai bentuk solidaritas terhadap daerah terdampak bencana.
SGY menambahkan, langkah Pemprov DKI Jakarta sejalan dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana serta Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang memberi kewenangan pemerintah daerah melakukan kerja sama dan bantuan kemanusiaan lintas wilayah.
"Perayaan Tahun Baru 2026 di Jakarta menjadi contoh bahwa pergantian tahun tidak harus dirayakan dengan kemewahan. Di tengah duka, Jakarta memilih empati dan solidaritas. Ini cerminan kepemimpinan yang beradab dan masyarakat yang dewasa," pungkas SGY. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Badminton, DKI Jakarta |













