Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
24 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
18 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
22 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
4
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
19 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
5
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
23 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
6
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
18 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Home  /  Berita  /  Voli

APBN 2025 Nyaris Tembus Batas, DPR Soroti Arah Stimulus Ekonomi

APBN 2025 Nyaris Tembus Batas, DPR Soroti Arah Stimulus Ekonomi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (foto: rmol/alifia)
Kamis, 08 Januari 2026 19:56 WIB

JAKARTA – Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 berakhir dengan defisit Rp695,1 triliun atau setara 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menandai tekanan fiskal yang semakin kuat karena melonjak dibandingkan tahun sebelumnya dan mendekati batas maksimal defisit yang diizinkan undang-undang.

Defisit tersebut tercatat lebih tinggi dari realisasi APBN 2024 yang berada di angka Rp509,1 triliun atau 2,3 persen terhadap PDB. Capaian itu juga melampaui proyeksi pemerintah yang sebelumnya mematok defisit sekitar 2,78 persen.

Kondisi ini mendapat sorotan dari Anggota DPR RI, Mardani Ali Sera. Ia menilai posisi defisit saat ini sudah berada di zona rawan dan perlu disikapi dengan kebijakan fiskal yang lebih cermat.

“Angka 2,92 persen defisit nyaris menyentuh angka kramat 3 persen seperti diamanatkan UU Keuangan Negara tentang maksimal defisit,” ujarnya melalui akun X, Kamis (8/1/2026).

Menurutnya, tantangan APBN belum akan mereda. Kebutuhan anggaran untuk pemulihan bencana di dalam negeri diperkirakan terus meningkat. Di saat yang sama, fluktuasi harga minyak dunia berpotensi menambah beban fiskal, sementara kinerja ekspor nasional masih menghadapi tekanan global.

“Tekanan APBN di 2026 mesti waspada,” katanya mengingatkan. 

Dalam situasi tersebut, Mardani menaruh harapan besar pada peran Menteri Keuangan, Purbaya, agar mampu menjaga keseimbangan antara disiplin fiskal dan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Pak Purbaya perlu didoakan bisa memberi stimulus yang menggerakkan ekonomi dalam negeri, plus quality spending, ditambah perbaikan proses birokrasi dan terus memerangi korupsi,” ungkapnya.

Ia meyakini belanja negara yang lebih berkualitas, disertai reformasi birokrasi yang konsisten, dapat memperbaiki efektivitas investasi pemerintah. Dengan langkah tersebut, Incremental Capital Output Ratio (ICOR) nasional diharapkan kembali ditekan ke bawah 5 persen, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak hanya terjaga, tetapi juga lebih efisien. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Voli, Metropolitan, DKI Jakarta
wwwwww