Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
20 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
14 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
18 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
4
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
15 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
5
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
19 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
6
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
14 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Home  /  Berita  /  Beladiri

Pengakuan Mengejutkan Ammar Zoni di Pengadilan, Mengaku Ditekan Oknum Penyidik

Pengakuan Mengejutkan Ammar Zoni di Pengadilan, Mengaku Ditekan Oknum Penyidik
Aktor Ammar Zoni
Kamis, 08 Januari 2026 21:37 WIB

JAKARTA – Sidang lanjutan kasus dugaan pengedaran narkoba di Rutan Salemba mendadak berubah tegang setelah Ammar Zoni melontarkan pengakuan mengejutkan. Di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Ammar mengaku mengalami tekanan serius hingga dugaan pemerasan bernilai miliaran rupiah oleh oknum penyidik.

Sidang Kamis (8/1/2026) dipimpin Ketua Majelis Hakim Dwi Elyarahma Sulistiyowati. Hakim menegaskan para terdakwa tidak disumpah saat memberikan keterangan, namun diminta berkata jujur demi mengungkap fakta yang sebenarnya.

Mendapat giliran terakhir, Ammar memaparkan kronologi awal yang menurutnya menjadi titik balik kasus. Ia mengaku satu sel dengan narapidana bernama Jaya, terpidana kasus narkoba, yang sempat menawarkan pekerjaan ilegal.

“Dia bilang mau ada tambahan uang Rp10 juta, cuma disuruh jagain narkoba. Saya ketawa, Yang Mulia. Harga saya enggak segitu, dan saya sudah berkali-kali masuk gara-gara narkoba. Jadi saya tolak,” kata Ammar.

Setelah penolakan itu, Ammar menganggap hubungannya dengan Jaya selesai. Namun, beberapa hari kemudian ia melihat aktivitas mencurigakan melibatkan tahanan lain. Malam harinya, petugas melakukan penggeledahan di sejumlah kamar, termasuk sel Ammar.

Dalam penggeledahan tersebut, ia mengaku ditanya soal telepon genggam yang dimilikinya. Ammar menjelaskan, satu ponsel adalah miliknya, sementara satu lagi merupakan ponsel gadai milik tahanan lain.

Tak lama setelah itu, Ammar dibawa menjalani pemeriksaan. Di persidangan, ia secara tegas mencabut seluruh keterangan dalam Berita Acara Pemeriksaan karena mengaku berada dalam tekanan.

“Saya tarik semuanya. Keterangan itu keluar bukan dari kehendak bebas saya. Saya sudah bilang ke penyidik, ini urusannya Jaya dengan terdakwa lain,” ujarnya.

Pernyataan paling mengejutkan muncul saat Ammar menuding adanya permintaan uang dari oknum penyidik. Ia mengaku diminta menyiapkan Rp300 juta per orang dari total 10 orang yang disebut terlibat.

“Penyidik bilang, mau kasusnya selesai, siapkan Rp300 juta per kepala. Totalnya Rp3 miliar. Saya bilang ini pemerasan,” ungkapnya lantang di ruang sidang.

Ammar merasa dirinya sengaja diarahkan menjadi tokoh utama dalam perkara tersebut. Ia mengaku ditekan agar mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukannya.

“Jangan Rp300 juta, Rp3 juta saja saya enggak mau bayar. Saya dipaksa seolah-olah jadi induk kasus ini, padahal saya enggak kenal mereka semua. Semua ini bermula dari Jaya,” tuturnya.

Pengakuan Ammar membuat suasana ruang sidang kian panas. Majelis hakim mencatat seluruh pernyataan tersebut untuk menjadi bagian dari pertimbangan dalam proses persidangan berikutnya. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inews.id
Kategori:Beladiri, DKI Jakarta
wwwwww