Hujan Deras Lumpuhkan Jakarta, Kinerja Pejabat Pengendali Banjir Dipertanyakan
![]() |
| Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum. (Foto: Istimewa) |
JAKARTA – Hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak Senin dini hari (12/1/2026) kembali memicu banjir di sejumlah ruas jalan utama. Genangan air yang meluas tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga menyebabkan kemacetan panjang di berbagai titik ibu kota.
Kondisi tersebut memunculkan sorotan tajam terhadap Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum, yang dinilai belum mampu menunjukkan kinerja optimal dalam pengendalian banjir.
Ketua Forum Pemuda Peduli Jakarta, Endriansah, menilai penanganan banjir yang terjadi kali ini mencerminkan kegagalan tata kelola sumber daya air di Jakarta.
“Kepala Dinas SDA gagal menanggulangi banjir di Jakarta. Dampaknya nyata, banjir meluas dan kemacetan panjang terjadi di mana-mana,” ujar Endriansah kepada redaksi.
Ia menegaskan, pejabat teknis tidak cukup hanya menyampaikan rencana dan penjelasan di atas kertas. Menurutnya, masyarakat membutuhkan hasil konkret, sementara selama hampir tiga tahun kepemimpinan saat ini, titik-titik banjir justru disebut bertambah.
“Tidak boleh hanya bicara. Faktanya, hampir tiga tahun menjabat, banjir masih jadi persoalan berulang. Banyak PNS dengan latar belakang teknis yang lebih berpengalaman dan layak menangani masalah banjir Jakarta,” katanya.
Endriansah juga mengingatkan bahwa banjir yang terjadi kali ini baru dipicu oleh curah hujan. Padahal, Jakarta masih dihadapkan pada ancaman yang lebih serius, seperti penurunan muka tanah dan tekanan air laut di wilayah pesisir utara.
“Kalau hujan saja Jakarta sudah tenggelam, bagaimana nanti menghadapi penurunan tanah dan rob dari laut? Ini alarm keras kegagalan pengelolaan sumber daya air,” tegasnya.
Selain aspek teknis, FPPJ turut menyoroti besarnya anggaran pengendalian banjir yang setiap tahun mencapai triliunan rupiah. Namun, menurut Endriansah, dana besar tersebut belum berbanding lurus dengan dampak perlindungan bagi warga.
“Anggaran besar habis, tapi rakyat tetap kebanjiran. Yang rapi hanya laporan, yang tenggelam masyarakat,” pungkasnya.
Banjir kali ini kembali membuka ruang kritik publik terhadap arah kebijakan dan efektivitas pengelolaan sumber daya air di Jakarta, di tengah tantangan lingkungan yang kian kompleks. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | rmol.id |
| Kategori | : | Voli, Metropolitan, Lingkungan, DKI Jakarta |













