Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
20 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
9 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
3
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
9 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
4
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
18 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
5
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
9 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
6
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
9 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Home  /  Berita  /  Olympic

Tragedi Kayu Gelondongan di Lereng Slamet, Satu Warga Purbalingga Tewas

Tragedi Kayu Gelondongan di Lereng Slamet, Satu Warga Purbalingga Tewas
Ilustrasi. Material kayu terbawa arus saat banjir bandang di Purbalingga. (reuters/ipa ibanez)
Sabtu, 24 Januari 2026 21:16 WIB

JAKARTA – Suara gemuruh dari arah hulu Sungai Soso menjadi awal petaka bagi warga di Desa Serang dan Desa Sangkanayu. Banjir bandang yang membawa material lumpur dan kayu gelondongan ukuran besar menerjang pemukiman warga di lereng tenggara Gunung Slamet, Sabtu (24/1/2026) dini hari.

Bencana ini memakan korban jiwa. Solihah (26), warga Desa Serang, tidak sempat menyelamatkan diri dan meninggal dunia setelah terseret arus yang sangat kuat. Rumah tinggalnya kini rata dengan tanah setelah dihantam terjangan air dan material padat.

Tri Sasongko, warga RT 13 RW 05 Desa Sangkanayu, menceritakan bahwa situasi mulai mencekam sekitar pukul 03.15 WIB. Meskipun hujan di pemukiman tidak terlalu lebat, angin kencang telah menderu selama beberapa hari terakhir.

"Arah air dari atas. Tiba-tiba kencang banget luapan sungai karena tertutup material. Arus pertama bawa lumpur, tapi yang kedua datang lebih besar bawa kayu-kayu," paparnya.

Dampak penghancuran paling nyata terlihat pada kediaman Saryono, warga RT 14 RW 05 Desa Sangkanayu. Ia yang sedang tertidur lelap terbangun akibat kepanikan istrinya saat air masuk ke dalam rumah. Dalam kondisi gelap dan suara gemuruh yang menakutkan, ia menyaksikan bagaimana aset usahanya hancur seketika.

"Ternyata kayu yang datang sampai tiang rumah saya tertabrak kayu besar. Kalau sampai patah, rumah ini pasti ambruk," jelas Saryono.

Selain merusak fisik bangunan, banjir ini melumpuhkan ekonomi keluarga Saryono. Seluruh alat produksi batako dan paving, kantor usaha, hingga 500 buah material bangunan siap jual raib terbawa arus. Dua sepeda motor miliknya terseret, sementara satu kendaraan jenis Tossa tertimbun lumpur di bawah puing.

"Kerugiannya mungkin sampai ratusan juta. Padahal rencana saya mau bangun rumah lagi dari hasil usaha ini," tambahnya lesu.

Hingga kini, warga masih berupaya membersihkan sisa lumpur pekat di jalur utama menuju Basecamp Pos Bambangan. Keberadaan kayu-kayu gelondongan yang hanyut hingga ke pemukiman menjadi sorotan utama, mengingat dampak yang ditimbulkan jauh lebih destruktif dibandingkan sekadar luapan air sungai biasa. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:cnnindonesia.com
Kategori:Olympic, Jawa Barat
wwwwww