Banjir Jakarta Dinilai Akibat Buruknya Sistem Drainase Kota
![]() |
| Banjir di Jakarta. (Ist) |
Minggu, 01 Februari 2026 16:58 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Banjir yang masih menggenangi sejumlah wilayah Jakarta hingga Jumat (30/1/2026) menunjukkan persoalan serius pada sistem drainase ibu kota.
Wakil Ketua Forum Warga Kota (Fakta) Indonesia, Azas Tigor Nainggolan menilai, buruknya saluran air menjadi faktor dominan penyebab banjir, meski curah hujan dalam beberapa hari terakhir masih tergolong sedang.
Azas menyebut, banjir dengan ketinggian mencapai sekitar 1,5 meter masih merendam empat RW di Kelurahan Pejaten Timur, Jakarta Selatan. Menurutnya, kondisi tersebut tidak semata disebabkan hujan lokal, melainkan juga akibat banjir kiriman dari Bogor yang tidak dapat dialirkan secara optimal ke laut.
"Jika sistem drainase Jakarta berfungsi dengan baik, air dari hulu maupun hujan lokal seharusnya bisa mengalir lancar ke laut. Sebesar apa pun hujan, Jakarta seharusnya tidak banjir," kata Azas dalam keterangan tertulis, Minggu (1/2/2026).
Ia menilai, kerusakan saluran air di berbagai wilayah Jakarta telah berlangsung lama dan belum tertangani secara menyeluruh. Normalisasi sungai, termasuk Ciliwung, dinilainya belum cukup jika tidak dibarengi perbaikan sistem drainase di kawasan permukiman dan pusat kota.
"Masalah banjir Jakarta bukan hanya sungai yang menyempit, tetapi juga saluran air di tengah kota yang rusak, tertutup sampah, atau mengalami longsor. Ini membuat air tertahan dan meluap," ujarnya.
Azas menyoroti, kecenderungan pemerintah daerah sebelumnya yang lebih sering menyalahkan faktor alam, seperti banjir rob, curah hujan tinggi, atau air kiriman, tanpa menyelesaikan persoalan mendasar drainase kota. Padahal, menurut dia, genangan di puluhan ruas jalan utama Jakarta terjadi akibat saluran air yang tidak berfungsi.
Sebagai contoh, ia mengungkapkan, kondisi drainase di kawasan Matraman, Jakarta Timur, yang menurutnya tidak pernah diperbaiki selama lebih dari dua dekade. Kerusakan dinding saluran dan penumpukan sampah menyebabkan genangan air bahkan saat musim kemarau, serta berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.
Selain faktor usia dan minim perawatan, Azas menilai, pembangunan kawasan perumahan dan bisnis yang tidak terintegrasi dengan sistem drainase kota turut memperparah kondisi. Ia menambahkan, Jakarta juga belum sepenuhnya menyesuaikan tata kelola kotanya dengan dampak perubahan iklim.
"Solusi banjir Jakarta sebenarnya sudah jelas. Perbaiki dan revitalisasi seluruh sistem drainase kota serta tertibkan pembangunan yang merusak aliran air. Jika serius dilakukan, Jakarta seharusnya bisa terbebas dari banjir," pungkasnya. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Badminton, DKI Jakarta |













